Istri NAbi Muhammad

14 Istri Nabi Muhammad SAW

Nabi Muhammad terkenal mempunyai banyak istri selama masa hidupnya. Namun nabi Muhammad monogami selama 25 tahun ketika ia menikah dengan istri pertamanya, Khadijah binti Khuwaylid. Setelah kematian Khadijah pada tahun 619 M, Muhamamd kemudian baru menikahi sejumlah wanita.

Kehidupannya secara tradisional digambarkan oleh dua zaman: pra-hijrah di Mekah, sebuah kota di Arab bagian barat, dari tahun 570 hingga 622 M, dan pasca-hijrah di Madinah, dari 622 hingga kematiannya pada 632. Semuanya kecuali dua perkawinannya dikontrak setelah Hegira (atau Hijrah ke Madinah). Berikut adalah nama dari istri-istri Nabi Muhammad SAW.

Khadijah binti Khuwaylid

Khadijah adalah istri pertama Nabi Muhammad yang sangat Nabi cintai. Khadijah (Khadijah Istri Rasulullah) merupakan seorang janda dari seorang pedagang kaya tetapi ia sejahtera dengan usahanya sendiri. Khadijah tidak pernah malu untuk mengejar apa yang dia inginkan. Sebagai seorang wanita yang sangat cerdas dan memiliki naluri bisnis yang tajam, dia akhirnya mengambil alih bisnis ayahnya di bidang perdagangan.

Pada saat bisnisnya tengah berkembang dan pandangan bahwa wanita dianggap masih lemah, Khadijah harus mencari karyawan dengan kejujuran tinggi untuk dipekerjakan. Khadijah harus mencari rekan bisnis yang jujur karena jika, dia akan mengambil risiko kehilangan segalanya karena banyak pria di sukunya korup, tidak jujur dan meremehkan wanita.

Mengetahui tentang tingkat kejujuran dan kepercayaan yang tinggi dari seorang pria bernama Muhammad (Kisah Nabi Muhammad SAW), Khadijah kemudian mengerti bahwa Muhamad adalah tipe pria yang akan melakukan yang terbaik untuknya perihal bisnisnya. Jadi, Khadijah tidak menunggu Muhamad datang padanya untuk melamar pekerjaan.

Khadijah dengan percaya diri mencari Muhamad, menanyakan apakah dia mau bekerja untuknya. Nabipun kemudian menerimanya. Khadijah adalah orang yang sangat beruntung karena dikelilingi oleh orang-orang terbaik

Sebagai wanita yang sangat sukses, garis keturunan yang terhormat, dan karakter yang sempurna, Khadijah memiliki banyak daftar pria yang ingin menikahinya. Tapi Khadijah adalah seseorang yang tahu harga dirinya. Dia tidak akan menerima seseorang yang moral dan intelektualnya lebih rendah.

Saudah binti Zam’a

Siapakah 11 Istri Nabi? Setelah menikah selama 25 tahun dengan Khadijah, Nabi Muhamad pun akhirnya menikah lagi. Istri keduanya adalah Saudah (Saudah binti Zam’ah) dan dia adalah salah satu di antara orang pertama yang masuk Islam. Saudah menerima konsekuensi yang sangat besar ketika masuk Islam, yakni mendapatkan penyiksaan dan bahkan kematian di tangan orang-orang Quraisy. Tapi Saudah tidak membiarkan rasa takut menghentikannya dari memeluk agama Islam.

Saudah juga termasuk orang yang hijrah di jalan Allah SWT. Bersama suaminya yang pertama, Saudah meninggalkan rumah untuk melakukan perjalanan ke Abyssinia, untuk mendapatkan keselamatan dari orang-orang Quraisy.

Setelah beberapa lama di rumah barunya di Abyssinia, suami Saudah jatuh sakit dan meninggal dunia. Kemudian Nabi melamar Saudah dan ia segera menerima lamaran untuk menikah dengan Nabi SAW.

Aisyah binti Abu Bakar

Aisyah adalah seorang gadis muda putri Sahabat Nabi Muhammad, Abu Bakar Shidiq (Meneladani Kisah Abu Bakar As-Siddiq) yang sangat cerdas, yang tumbuh menjadi salah satu ulama Islam terkemuka. Pada saat kematiannya, Aisyah adalah seorang wanita yang ahli dalam tafsir Alquran, hadits, dan hukum. Faktanya, banyak dari Kitab Tafsir di Sahih Muslim berisi riwayat darinya.

Saat mengunjungi rumah Abu Bakar, Nabi Muhamad melihat Aisyah (Kisah Hidup Aisyah binti Abu Bakar) bermain dengan kuda, padahal dia baru berusia lima tahun saat itu. Nabi bertanya pada Aisyah, apa yang diajaknya bermain? Aisyah menjawab itu adalah seekor kuda bersayap. Nabi tersenyum dan menjawab bahwa kuda tidak bersayap!

READ:  Saudah binti Zam'ah

Aisyah segera menjawab bahwa Nabi Sulaiman memiliki kuda bersayap! ”.  Dalam hal ini, Aisyah menunjukkan pengetahuannya. Nabi sendiri sering terdengar tertawa karena terkejut atas kecerdasannya yang cepat dan tajam. Aisyah  diberkati dengan ingatan yang luar biasa dan tidak pernah melupakan sesuatu begitu dia mendengarnya.

Hafsah binti Umar ibn Al-Khattab

Di saat kebanyakan pria dan wanita suku Arab kebanyakan buta huruf, Hafsah adalah seorang wanita yang bisa membaca dan menulis. Hafsah (Hafsah binti Umar ibn Al-Khattab, Penghafal dan Pelindung Pesan Ilahi) mengabdikan dirinya untuk mempelajari seni sastra saat itu. Bukan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan memang sangat jarang bagi perempuan khususnya untuk memiliki ilmu tersebut, namun karena Hafsah menyukainya.

Tetapi kebiasaan rajinnya lebih dari sekadar membaca dan menulis. Ketika dia hijrah dari Mekah ke Madinah, Hafsah membuat pengaturan khusus untuk menghafal ayat-ayat Al-Qur’an yang diturunkan. Setelah menghafal setiap ayat, dia akan memikirkannya secara mendalam, memberikan perhatian khusus pada makna, implikasi, dan interpretasinya.

Hafsa binti Umar ibn Al-Khattab (Umar bin Khattab Khalifah Pengganti Nabi Muhammad) melindungi dokumentasi wahyu Alquran selama kehidupan Nabi sampai pemerintahan khilafah Utsman akhirnya memutuskan untuk menyusun Al-Qur’an menjadi satu bentuk buku.

Al-Qur’an adalah hal terpenting dan paling berharga yang pernah ada di dunia ini. Hafsah adalah orang yang dipercayakan untuk membentuk alquran dalam bentuk lisan dan tulisan. Hafsah dianggap sebagai penjaga alquran dan menjadi sumber utama alquran dalam bentuk verbal dan tekstual. Jika dia bukan orang yang paling dapat dipercaya, Nabi Muhamad dan para sahabat tentu tidak akan memberinya tugas penting untuk menyimpan Al-Qur’an.

Zainab binti Khuzaimah

Zainab adalah istri Nabi yang memiliki semangat memberi. Dia terkenal karena perhatiannya terhadap orang yang lapar dan membutuhkan. Tetapi kemurahan hatinya tidak untuk mencari hadiah atau untuk dilihat sebagai orang yang baik. Kemurahan hatunya karena dia tidak tahan melihat sesamanya yang membutuhkan.

Rasa welas asihnya kepada orang miskin begitu besar sehingga para penyair terkenal saat itu mengabadikannya dalam syair mereka sebagai “ibu dari orang miskin”.

Zainab pindah agama lebih awal selama misi dakwah Nabi. Setelah mempelajari Islam yang mengajarkan kepada sesamanya untuk melindungi dan memenuhi kebutuhan masyarakat yang lemah dan membutuhkan, kemurahan hati Zainab (Zainab binti Khuzaimah) semakin meningkat.

Ummu Salamah binti Abu Umayyah

Di antara istri Nabi Muhammad SAW, Ummu Salamah adalah sosok yang cerdas, kuat, dan bijaksana. Ummu Salamah adalah seorang ulama di antara para ulama. Dia meriwayatkan lebih dari 300 hadits dan sangat memiliki pengetahuan yang luas tentang Al-Qur’an dan interpretasinya sangat bagus sehingga dia dianggap sebagai orang memiliki penilaian paling kompeten tentang hukum Islam.

Bahkan ‘Abdullah bin’ Abbas, salah satu ulama paling awal Alquran, selalu meminta nasihat dari Umm Salamah tentang hukum Islam. Tetapi bidang keahlian Ummu Salamah (Ummu Salamah binti Abu Umayyah)  tidak dimulai dan berakhir pada pengetahuan Islam saja. Dia juga seorang pakar bahasa. Ketika dia berbicara, kata-kata dan frasa dipilih dengan baik dan tepat untuk mengekspresikan ide.

Juwairiyyah binti al-Haaritsh 

Juwayriyah binti al-Haritsh lahir adalah putri dari kepala suku Banu al-Mustaliq. Dia adalah seorang putri yang cantik, anggun, dan kuat. Ketika Muslim mengetahui bahwa Banu al-Mustaliq, suku Juwayriyah, sedang merencanakan penyerangan terhadap Muslim, perang pun pecah.

Kaum Muslimin mengalahkan Bani al-Mustaliq dan kekalahan sukunya ini secara drastis mengubah cara Juwayriyah (Juwairiyyah binti al-Haaritsh) melihat hidupnya berjalan. Juwayriyah ditawan dan diberikan sebagai budak Tsaabit ibn Qays. Menjadi budak adalah takdir yang tidak bisa dia terima. Tapi dia tidak segan menghadapi tantangan di hadapannya. Dia mendekati Tsaabit ibn Qays untuk merundingkan pembebasannya.

READ:  Hafsah binti Umar ibn Al-Khattab, Penghafal dan Pelindung Pesan Ilahi

Dia menyetujui jumlah uang untuk menebus kebebasannya, tetapi Juwairiyyah tidak tahu bagaimana cara dia mendapatkan uang. Namun tetap saja dia tidak menyerah untuk memperjuangkan kebebasannya.

Aisyah kemudian mengajukan petisi dan bersikeras untuk melihat Nabi Muhammad, satu-satunya pria yang dia kenal untuk bisa membantunya. Tidak disangka, dari situlah Nabi mau menebusnya dan iapun dinikahi oleh Nabi.

Zainab binti Jahsh (lahir 590 – wafat 641 M)

Zainab adalah salah satu istri Nabi yang paling membela Aisyah ketika putri Abu Bakar itu telah difitnah. Zainab binti Jahsh berasal dari kehidupan mewah sebagai bangsawan di antara suku Quraisy. Tapi hatinya masih sangat lembut terhadap mereka yang kekurangan.

Setelah Muslim mengalahkan Persia dan memperoleh kekayaan melimpah dari harta rampasan, Zainab  (Zainab binti Jahsh) menunjukkan sifatnya yang benar-benar dermawan. Ketika Umar mengirimi Zainab setumpuk emas sebagai bagian dari hartanya, Zainab memanggil pelayan.

Zainab menyuruhnya untuk mengambil segenggam untuk dibagikan ke salah satu orang miskin Madinah. Satu demi satu, Zainab menyebutkan semua orang miskin yang dia kenal, sampai mereka semua menerima bagian dari harta itu.

Ummu Habibah binti Abu Sufyan 

Terlepas dari kekuatan, pengaruh, dan kebencian ayahnya, Abu Sufyan terhadap Islam, Ummu Habibah mengakui kebenaran Islam ketika hidayah itu terjadi padanya. Ummu Habibah kemudian menerima Islam, meski dia tahu betul konsekuensi apa yang bisa dia hadapi dari ayah, keluarga, dan sukunya.

Terlepas dari semua konsekuensinya, Ummu Habibah (Kisah Hidup Ummu Habibah binti Abu Sufyan) secara terbuka menyatakan syahadat pada saat umat Islam menghadapi oposisi yang hebat dan penganiayaan kejam di tangan ayahnya sendiri. Umm Habibah kemudian hijrah bersama dengan suaminya, Ubaydullah Ibn Jahsh ke Abyssinia.

Dia menahan rasa sakit karena jauh dari Makkah, kampung halamannya dan kesulitan hidup di negeri asing dengan kemiskinan. Namun Ummu Habibah tetap berpegang teguh pada keyakinannya meski selalu ditekan oleh sukunya. Ia etap teguh pada keyakinannya di tanah Abyssinia yang baru dan asing.

Tapi hijrahnya ke Abyssinia bukanlah ujian terakhir keimanannya. Setelah tiba di negeri asing, dia mengalami hal yang menyedihkan tentang suaminya di mana Ubaydullah Ibn Jahsh justru murtad dan memeluk agama Kristen. Ummu Habibah sendirian di tanah asing dan berjuang untuk bisa bertahan hidup dengan tetap teguh pada keyakinannya pada Islam.

Mendengar kabar ini, Nabi mengirim ‘Amr bin Umayyah ke Najashi dengan pesan bahwa jika Ummu Habibah suka dengan Nabi, maka Nabi bisa menikahinya. Najashi, Raja Abyssinia, mengirimkan lamaran kepada Ummu Habibah melalui seorang gadis pelayan. Ummu Habibah dengan gembira menerima lamaran Nabi.

Dalam kurun waktu yang singkat, Ummu Habibah berubah dari wanita sendirian dan melarat menjadi istri Nabi dan pesta pernikahannya digelar sendiri oleh raja Abyssinia. Namun dia tetap rendah hati.

Safiyyah binti Huyayy ibn Akhtab

Safiyyah berasal dari keluarga yang memiliki kekuasaan yang signifikan. Ayahnya, Huyayy ibn Akhtab adalah pemimpin salah satu suku Yahudi terbesar yang tinggal di Madinah. Kala itu, ketika Rasulullah datang ke Madinah dan tinggal di Quba, orang tua dan paman Safiyyah menemui Nabi pada malam hari. Namun, Huyayy ibn Akhtab justru memusuhi Nabi dan tidak pecaya bahwa Nabi adalah utusan Allah.

Safiyyah (Safiyah binti Huyayy) terkejut dengan reaksi ayah dan pamannya setelah bertemu Rasulullah. Safiyyah menegaskan bahwa Muhamad benar-benar utusan Tuhan, tetapi keduanya memutuskan untuk melawannya.

READ:  Pelajaran yang Dapat Dipetik dari Perang Badar

Namun bagi Safiyyah, pengalaman bertemu Nabi mengubah hidupnya. Jadi, ketika Nabi  mengajaknya untuk menerima Islam, dia mengingat pengalaman itui dan dengan hati yang terbuka dan ikhlas menerima Islam sebagai agamanya. Setelah Muslim mengalahkan suku Yahudi Huyay, yang berencana untuk menghancurkan Muslim dan membunuh Nabi, Saffiyah kemudian menikah dengan Nabi.

Maimunah binti al-Haaritsh

Setelah Maimunah bercerai dan kemudian menjadi janda, Maimunah sangat terobsesi untuk menjadi istri Nabi. Obsesinya ini bukan tanpa sebab, karena dia pernah mendapat mimpi bahwa bulan akan jatuh ke pangkuannya dan dia menafsirkan bahwa maksud dari mimpi itu adalah ia akan menikah dengan Rasulullah SAW. Jadi, Maimunah mencari bantuan agar ia bisa menikah dengan Nabi.

Maimunah (Maimunah binti al-Harits) lalu pergi ke Ummu al Fadl untuk berbicara dengannya tentang keinginannya untuk menikah dengan Rasul. Ummu al Fadl kemudian berbicara dengan sahabat Nabi, Ibnu Abbas  tentang harapan Maimunah.

Kemudian, Abbas segera mendekati Rasulullah dan menyampaikan tawaran menikah dari Maimunah dan lamarannya pun diterima. Maimunah tidak menunggu seseorang mendekatinya dengan niat menikah. Dia bertindak dengan sendirinya untuk mencari pria terbaik, pria yang benar-benar ingin dia nikahi.

Maria al-Qibtiyya

Maria al-Qibtiyya adalah salah satu dari beberapa budak yang dikirim Gubernur Mesir sebagai hadiah untuk Muhammad. Namun Nabi menjadikannya sebagai selir meskipun ada keberatan dari istri-istri resmi Nabi, yang takut karena kecantikan Maria.

Maria, sang Koptik, dikirim ke Nabi Muhammad  oleh Patriark Alexandria dan ia menghabiskan sisa hidupnya di Madinah di untuk memeluk Islam dan tinggal bersama Nabi. Maria memberikan Nabi Muhammad seorang putra bernama Ibrahim.

Namun banyak yang menentang status Maria sebagai istri nabi karena bagaimanapun Maria (Mengenal Sosok Mariah Al Qibtiyyah) hanyalah seorang selir  (budak perempuan) dan bukan istri Nabi. Status ini ditetapkan dalam tradisi Muslim. Namun belakangan ini, beberapa muslim mengklaim bahwa Maria adalah istri Nabi karena memberikan nabi keturunan meskipun 18 bulan kemudian putranya meninggal.

Mulayka binti Kaab

Mulayka binti Kaab  juga sempat menjadi istri Nabi namun kemudian diceraikan Nabi pada bulan Januari 630. Keluarganya menolak invasi Muslim ke Mekah. Dikarenakan adanya keinginan menenangkan Nabi, keluarganya memberikan Mulayka yang cantik sebagai pengantin.

Namun ketika Mulayka menyadari bahwa tentara Nabi Muhammad telah membunuh ayahnya, Mulaykan akhirnya menuntut cerai dan ia meninggal beberapa minggu kemudian setelah bercerai dari Nabi.

Fatimah al-Aliya binti Zabyan al-Dahhak

Fatimah sempat menikah dengan Nabi dan bercerai sekitar bulan Februari atau Maret 630. Dia adalah putri dari seorang kepala suku kecil yang telah masuk Islam. Muhammad menceraikannya hanya dalam beberapa minggu “karena dia mengintip pria di halaman masjid.” Fatima harus bekerja selama sisa hidupnya sebagai pengumpul kotoran, dan dia hidup lebih lama dari semua janda Muhammad.

Motivasi Hijrah Islami
Motivasi Hijrah Cinta

Masih ada beberapa istri-istri Nabi yang bercerai setelah Maria al-Qibtiyya, Mulayka binti Kaab  dan Fatimah al-Aliya. Pernikahan itu berlangsung sebentar karena beberapa alasan sehingga yang terkenal menjadi istri-istri Nabi yang menemani Nabi Muhammad hingga wafat adalah 11 nama yang disebutkan di atas kecuali Khadijah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *