Ummu Habibah Ramlah binti Abu Sufyan

Kisah Hidup Ummu Habibah binti Abu Sufyan

Ummu Habibah Ramlah binti Abu Sufyan adalah istri Nabi Muhammad ketika Nabi berumur 63 dan dia 35. UmmuHabibahadalah putri Abu Sufyan, salah satu musuh Nabi yang paling tegas, menghabiskan sebagian besar kekayaannya untuk melawan Muslim, dan memimpin tentara dari orang kafir untuk melawan.

Abu Sufyan adalah musuh umat muslim yang mengikuti semua pertempuran besar melawan kaum muslim, termasuk perang pertempuran Badar, Uhud dan al-Khandaq. Sesungguhnya, baru setelah penaklukan Mekah, ketika Nabi dengan murah hati mengampuninya, Abu Sufyan memeluk Islam dan mulai berperang dengan kaum Muslim untuk melawan kaum kafir. Berikut adalah kisah di balik sosok istri Nabi bernama Ummu Habibah.

Profil Ummu Habibah

Ummu Habibah bernama asli Ramla binti Abi Sufyan yang lahir pada tahun 594 M. Sebagaimana yang telah diceritakan sebelumnya bahwa ia adalah putri dari kepala suku Quraisy terkenal, Abu Sufyan ibn Harb. Abu Sufyan memilih untuk menolak Islam pada awalnya dan tetap menjadi musuh Nabi sampai penaklukan Mekkah. Namun, putrinya menolak perintah ayahnya dan memeluk Islam sejak dini.

Ummu Habibah pertama kali menikah dengan Ubaidullah bin Jahsh. Ubaidullah adalah saudara laki-laki Zaynab binti Jahsh, istri Nabi (Istri Nabi Muhammad SAW). Ubaidullah termasuk di antara orang-orang pertama yang memeluk Islam di Mekah, dan mereka termasuk di antara Muslim awal yang hjrah ke Abyssinia agar aman.

Ummu Habibah pindah ke Abyssinia bersama suaminya tersebut. Dia memiliki seorang putri bernamaHabibah dan karenanya, ia mendapat julukan Ummu Habibah yang berarti ibu dari Habiba.

Namun, begitu berada di Abyssinia, Ubaydullah meninggalkan Islam dan menjadi seorang Kristen. Ubaydullah mencoba membuat Ummu Habibah menjadi Kristen dan meninggalkan Islam, tetapi Ummu Habibah tetap teguh memegang Islam.

Keadaan tersebut menempatkan Ummu Habibah pada posisi yang sulit, karena wanita muslim hanya boleh menikah dengan pria muslim. Dia tidak bisa lagi tinggal bersama suaminya, dan begitu mereka bercerai, dia tidak bisa kembali ke ayahnya, yang masih sibuk melawan muslim.

READ:  Mengenal Sosok Mariah Al Qibtiyyah

Hingga kemudian Ummu Habibah dia tinggal dengan putrinya di Abyssinia, menjalani kehidupan yang sangat sederhana dalam isolasi, menunggu untuk melihat apa yang akan Allah tetapkan untuknya.

Pernikahan Ummu Habibah dengan Nabi Muhammad

Suatu hari, ketika UmmuHabibah duduk di kamar pengasingannya, seseorang mengetuk pintunya dan berkata bahwa dia telah dikirim oleh Negus yang memiliki pesan untuknya. Pesannya adalah bahwa Nabi Muhammad telah memintanya untuk menikah.

Apabila dia menerima lamaran ini maka Ummu Habibah harus menyebutkan salah satu umat Islam di Abyssinia sebagai wakilnya, sehingga upacara perkawinan bisa dilangsungkan di Abyssinia meskipun dia tidak sejajar dengan Nabi.

Secara nurani, Ummu Habibah sangat gembira dan iapun segera menerima lamaran Nabi tersebut. “Allah memberimu kabar baik! Allah memberimu kabar baik!” serunya, ia menarik perhiasan kecil yang dimilikinya dan memberikannya kepada anaknya yang tersenyum. Ummu Habibah sampai meminta pelayan Negus itu untuk mengulangi pesan Nabi tiga kali karena dia hampir tidak bisa mempercayai telinganya.

Segera setelah lamaran Nabi diterima, semua muslim yang mencari perlindungan di Abyssinia dipanggil ke istana Negus untuk menyaksikan upacara pernikahan sederhana atas nama Nabi dan wakilnya, Khalid ibn Sa’id ibn al-As. Ketika pernikahan Nabi dan Ummu Habibah selesai, Negus berbicara dengan kata-kata ini:

“Aku memuji Allah Yang Maha Suci, dan aku menyatakan bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya dan bahwa Dia memberikan kabar baik kepada Isa putra Maryam.

“Rasulullah meminta saya untuk menyelesaikan kontrak pernikahan antara dia dan Umm Habiba, putri Abu Sufyan. Saya setuju untuk melakukan apa yang dia minta, dan atas namanya saya memberinya mas kawin empat ratus dinar emas. ”

Negus menyerahkan uang tersebut kepada Khalid ibn Sa’id yang berdiri dan berkata:

READ:  Maimunah binti al-Harits

“Segala puji bagi Allah. Aku memuji-Nya dan aku mencari pertolongan dan pengampunan-Nya dan aku berpaling kepada-Nya dalam pertobatan. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya yang telah Dia kirimkan dengan petunjuk dan kebenaran sehingga Nabi bisa menang atas semua agama lain, betapapun banyak perlawanan untuk  menolak ajaran Nabi.

“Saya setuju untuk melakukan apa yang diminta Nabi dan bertindak sebagai wakil atas nama Ummu Habibah, putri Abu Sufyan. Semoga Allah memberkati Rasul-Nya dan istrinya. Selamat kepada UmmuHabibahatas kebaikan yang telah ditetapkan Allah untuknya. ”

Khalid mengambil mahar dan menyerahkannya kepada Ummu Habiba. Jadi meskipun Nabi tidak bisa langsung pergi menikahi Ummu Habibah secara langsung, tetap saja saat itu agama menyatakan bahwa mereka berdua tetap sah menikah.

Kaum muslim yang menyaksikan akad nikah baru saja akan pergi, namun Negus kemudian berkata kepada mereka, “Duduklah, karena itu adalah tradisi para Nabi untuk menyajikan makanan pada saat nikah.”

Dengan gembira semua orang duduk kembali untuk makan dan merayakan acara bahagia itu. UmmuHabibah khususnya hampir tidak dapat mempercayai keberuntungannya, dan dia kemudian menggambarkan betapa inginnya dia untuk berbagi kebahagiaannya, dengan mengatakan:

“Ketika saya menerima uang sebagai mas kawin saya, saya mengirim lima puluh mithqal emas kepada gadis pelayan yang pertama kali membawakan saya kabar baik, dan saya berkata kepadanya, ‘Saya memberikan apa yang saya lakukan ketika kamu memberi saya kabar baik karena pada saat itu saya tidak punya uang sama sekali.’

“Tak lama kemudian, dia mendatangi saya dan mengembalikan emasnya. Dia juga mengeluarkan sebuah kotak yang berisi kalung yang telah saya berikan kepadanya dan memberikannya kepada saya, seraya mengatakan, ‘Negus telah menginstruksikan saya untuk tidak mengambil apapun dari Anda, dan dia telah memerintahkan wanita-wanita di rumahnya untuk mempersembahkan kepadamu hadiah parfum. ‘

READ:  Zainab binti Jahsh

“Keesokan harinya, dia membawakanku minyak ambergris, kunyit, dan kayu gaharu dan berkata, ‘Aku ingin meminta bantuanmu.’

‘”Apa itu?’ Saya bertanya.

‘”Saya telah menerima Islam,’ jawabnya, ‘dan sekarang saya mengikuti din Muhammad. Tolong sampaikan salam damai saya kepadanya, dan biarkan dia tahu bahwa saya percaya kepada Allah dan Nabi-Nya. Tolong jangan lupa. ‘”

Enam tahun kemudian, pada 7 H, ketika para kaum muhajirin muslim di Abyssinia akhirnya dapat kembali ke Arab, Ummu Habibah datang ke Madinah dan di sana Nabi Muhammad yang baru saja kembali dengan kemenangan dari Khaybar dan Nabi menyambutnya dengan hangat. Itulah awal pertemuan Ummu Habibah dengan Nabi hingga kemudian ia bisa tinggal bersama dengan Nabi.

Kekuatan karakter Ummu Habibah dapat diukur dengan apa yang terjadi sesaat sebelum penaklukan Mekkah, ketika ayahnya, Abu Sufyan, datang ke Madinah setelah Quraisy melanggar perjanjian Hudaibiyyah. Abu Sufyan datang untuk mencoba menegosiasikan kembali suatu pemukiman baru dengan Nabi Muhammad dan kaum Muslimin. Dia pertama kali pergi ke kamar UmmuHabibahdan hendak duduk di atas selimut tempat Nabi  tidur.

Selama lebih dari 6 tahun Ummu Habibah tidak berhubungan dengan ayahnya, dengan tegas Ummu Habibah melarang sang ayah untuk duduk di atas ranjang milik Nabi.  Ummu Habibah kemudian meninggal di usia sekitar 74 tahun dan dimakamkan di Jannatul Baqi bersama dengan istri-istri nabi yang lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *