Kisah Nabi Muhammad

Kisah Nabi Muhammad SAW : Masa Kecil, Pernikahan, Perjalanan Dakwah Hingga Diangkat Menjadi Nabi dan Wafat

Muhammad adalah utusan Allah SWT yang menyebarkan agama Islam di Madinah yang kemudian berkembang menjadi Kerajaan Arab. Kebangkitan Islam secara intrinsik tidak lain karena peran Nabi Muhammad SAW, yang diyakini oleh umat Islam sebagai utusan yang terakhir dalam barisan panjang nabi.

Dikarenakan Nabi Muhammad adalah penerima dan utusan terpilih berdasarkan firman Allah melalui wahyu-Nya, maka umat muslim dari semua lapisan masyarakat berusaha untuk mengikuti teladannya. Setelah Alquran, perkataan Nabi dan uraian tentang cara hidupnya menjadi sebuah pedoman kedua umat muslim yang disebut hadits. Berikut adalah uraian mengenai kisah hidup Nabi Muhammad SAW.

Masa Kecil Nabi Muhammad SAW

Muhammad menyatukan Arab menjadi satu pemerintahan agama di bawah Islam. Muslim percaya bahwa dia adalah utusan dan nabi Tuhan. Alquran, teks agama utama dalam Islam, menyinggung kehidupan Muhammad.

Ada juga biografi tradisional Muslim tentang Muhammad (literatur sira), yang memberikan informasi tambahan tentang kehidupan Muhammad.  Muhammad hampir secara universal dianggap oleh umat Islam sebagai nabi terakhir yang diutus Tuhan kepada umat manusia. Sementara non-Muslim menganggap Muhammad sebagai pendiri Islam, Muslim menganggapnya telah memulihkan iman monoteistik asli Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan nabi lainnya yang tidak berubah.

Muhammad sendiri lahir sekitar tahun 570 M dari klan Bani Hasyim, suku Quraisy, salah satu keluarga penting Mekah. Nabi Suci Muhammad adalah putra Abdullah dan Aminha. Ayahnya, Abdullah, meninggal beberapa hari sebelum kelahirannya. Ia lahir di kota Mekkah di Arab. Nenek moyangnya adalah kepala suku Quraisy.

Ayahnya, Abdullah, meninggal hampir enam bulan sebelum Muhammad lahir. Menurut tradisi Islam, Muhammad diutus untuk tinggal bersama keluarga Badui di gurun pasir, karena kehidupan di gurun dianggap lebih sehat bagi bayi.

Sudah menjadi kebiasaan di antara keluarga bangsawan Quraisy bahwa mereka menitipkan bayi mereka yang baru lahir kepada wanita desa agar mereka dapat dibesarkan di lingkungan yang terbuka dan sehat. Oleh karena itu, menurut adat yang dipercaya oleh suku Quraisy, Muhammad diserahkan kepada Halimah Sa’diah, seorang wanita dari suku Bani Sa’d.

Nabi Suci Muhammad menghabiskan lima tahun pertama hidupnya dengan Halimha dan kemudian dia mengembalikannya kepada ibunya, Aminah. Ibunya membesarkannya dengan cinta dan pengabdian yang besar.

Ketika Muhammad berumur sekitar enam tahun, Aminah membawanya ke Madinah selama beberapa hari. Namun, dalam perjalanan pulang, Aminah  menghembuskan napas terakhirnya dalam perjalanan. Setelah itu kakeknya Abdul Muttalib merawatnya.

Abdul Muttalib sangat menyayangi cucunya yang yatim piatu dan sangat baik padanya. Namun, Abdul Muttalib juga meninggal setelah dua tahun merawat Muhammad. Di usianya yang ke delapan tahun, Muhammad kemudian berada di bawah asuhan pamannya Abu Thalib, pemimpin baru Bani Hasyim.

Ya, nabi kemudian mulai tinggal bersama pamannya Abu Thalib. Fatimah, putri Asad, yang merupakan istri Abu Thalib mencintai Muhammad seolah-olah dia adalah putranya sendiri. Abu Thalib juga sangat baik pada keponakannya tersebut. Ketika dia melakukan perjalanan untuk tujuan perdagangan, Abu Thalib bahkan membawa serta keponakannya meski usianya masih amatlah muda.

Di bawah bimbingan pamannya, Muhammad mendapatkan pengetahuan dan pengalaman bisnis yang jujur. Muhammad kemudian banyak dan dibicarakan oleh saudagar lainnya karena pengetahuan bisnis dan kejujurannya ketika berdagang membantu pamannya.

Hingga kemudian beberapa pedagang mempekerjakannya sebagai wakil mereka untuk melakukan urusan bisnis penting atas nama mereka. Muhammad sangat berhasil menjalankan amanah ini sehingga orang-orang sangat puas dengan kejujurannya. Oleh karena itu, orang-orang sangat menghormatinya dan biasa memanggilnya Sadiq (orang yang jujur) dan Amin (yang dapat dipercaya).

Sejak masa kanak-kanaknya Muhammad tidak pernah mengikuti ritual penyembahan berhala dan tidak pernah berbohong. Ia memiliki kebiasaan yang sangat baik. Ia adalah sosok anak kecil yang menjunjung tinggi kejujuran dan rasa hormat kepada yang lebih tua.

Sejarah Islam menyatakan bahwa ketika Muhammad berusia sembilan atau dua belas tahun, saat menemani pamannya berdagang ke Suriah, dia bertemu dengan seorang biarawan atau pertapa bernama Bahira. Bahira meramalkan bahwa Muhammad kelak akan menjadi utusan Tuhan.

Pernikahan Nabi Muhammad dengan Khadijah

Kisah asmara Nabi Muhammad dimulai ketika ia bekerja sebagai pedagang untuk Khadijah, seorang janda. Nabi menikahinya pada tahun 595 M pada usia 25 tahun. Saat itu Nabi Muhammad SAW kembali ke Mekah, dan Khadijah melihat betapa sosok pemuda satu ini begitu jujur dalam berdagang. Khadijah belum pernah melihat sosok saudagar yang sangat jujur sebelumnya. Pembantunya, Maysarah, juga menceritakan kepada Khadijah apa yang dilihatnya tentang sifat-sifat luhur serta kemurahan hati yang dimiliki oleh. Maysarah menceritakan kepada Khadijah tentang cara berpikir Nabi Muhammad yang jelas dan logis.

Khadijah kemudian mulai berpikir untuk menikah dengan Muhammad. Dia menceritakan hal ini kepada temannya Nafisah binti Maniyyah, yang kemudian Nafisah pergi ke Nabi Muhammad untuk berbicara dengannya tentang menikahi Khadijah dan Muhammad (saw) menyetujui ini.

Kemudian Muhammad berbicara dengan pamannya dan Abu Thalibpun pergi ke ayah Khadijah. Ayahnya setuju putrinya bertunangan dengan Nabi Muhammad, dan setelah itu mereka menikah. Bani Hasyim dan para pemimpin daerah Mudar menghadiri pernikahan yang diadakan dua bulan setelah Nabi Muhammad kembali dari Syam.

Mahar Khadijah adalah dua puluh unta betina muda. Khadijah kala itu berusia 40 tahun ketika dia menikah dengan Nabi Muhammad yang usianya 25 tahun. Pada saat itu, Khadijah adalah wanita yang paling kaya dan cerdas, dan memiliki garis keturunan paling mulia dari semua wanita di sukunya.

Khadijah adalah wanita pertama yang dinikahi Nabi Muhammad dan Muhammad tidak menikahi orang lain selama hidupnya. Pernikahan tersebut berlangsung selama 25 tahun dan disebut sebagai pernikahan yang bahagia.

Khadijah lalu melahirkan Al-Qasim, karena itu Nabi Muhammad SAW disebut Abu Al-Qasim, kemudian Zeinab, Ruqayah, Ummu Kultsum, Fatimah dan Abdullah. Namun semua putranya meninggal ketika mereka masih kecil dan semua putrinya masih hidup.

Ketika Islam datang, Khadijah dan anak-anaknya semua masuk Islam dan hijrah ke Madinah. Namun semua anaknya kemudian meninggal ketika Nabi Muhammad masih hidup, kecuali Fatimah.

Nabi Muhammad SAW  sangat mencintai Khadijah dan tidak menikah dengan wanita lain selama pernikahan pertamanya. Setelah Khadijah wafat, Khawla binti Hakim menyarankan agar Muhammad menikah dengan Sawda binti Zama, seorang janda Muslim, atau Aisha, putri Um Ruman dan Abu Bakar dari Mekah. Muhammad dikatakan telah meminta penangguhan dan peraturan untuk kemudian bisa menikahi keduanya.

Perjalanan Dakwah Nabi Muhammad SAW

Ketika usianya hampir 40 tahun, Muhammad mulai menghabiskan banyak waktu sendirian dalam doa dan berspekulasi tentang aspek penciptaan. Dia prihatin dengan ketidaktahuan orang akan petunjuk Allah (Jahiliyyah), ketidakadilan, diskriminasi yang meluas (terutama terhadap perempuan), perkelahian antar suku, dan penyalahgunaan otoritas suku yang lazim di Arab pra-Islam.

Kemerosotan moral dari sesamanya, dan pencariannya sendiri akan agama yang benar, semakin mendorong ia untuk berkhalwat sendiri.

READ:  Biografi Utsman bin Affan Sahabat Nabi

Dia menghabiskan sebagian besar waktunya untuk meditasi dan menyendiri. Gua Hira adalah tempat favorit Muhammad. Gua ini berjarak tiga mil di sebelah utara Mekah. Di sanalah dia biasa beristirahat dan menghabiskan hari-harinya untuk mengingat Allah. Tidak ada yang diizinkan pergi ke sana kecuali Khadijah dan sahabatnya Ali. Muhammad biasa menghabiskan seluruh bulan Ramadhan di dalamnya.

Selama periode khalwat ini, Muhammad mulai memiliki mimpi-mimpi yang sarat dengan makna spiritual. Masa ia berdiam diri di Gua Hira ini adalah awal dari diturunkannya wahyu ilahi.

17 Ramadan adalah tanggal di mana pengangkatan Muhammad untuk misi dakwahnya sebagai Nabi. Muhamamd adalah sosok seorang pria yang dipercaya akan mengangkat umat manusia dari kelemahan, ketidaktahuan dan kebobrokan menuju ke dalam cahaya iman dan pengabdian kepada satu Tuhan.

Hingga kemudian masa penantianpun telah berakhir. 40 tahun hidup Nabi Muhammad memiliki pengalaman yang bervariasi, dan dari sudut pandang dunia, ia adalah perwujudan dari kesempurnaan sejak awal.

Hati Muhammad dipenuhi dengan belas kasih yang mendalam bagi umat manusia dan dorongan mendesak untuk memberantas kepercayaan yang salah, kejahatan sosial, kekejaman dan ketidakadilan. Saatnya telah tiba ketika dia diizinkan untuk menyatakan kenabiannya.

Tradisi Islam menyatakan bahwa dalam salah satu kunjungannya ke Gunung Hira pada tahun 609 M, malaikat Jibril menampakkan diri kepadanya.

Malaikat Jibril memerintahkan Muhammad untuk melafalkan ayat-ayat yang nantinya akan dimasukkan dalam Alquran. Setelah menerima wahyu pertamanya, Muhammad sangat tertekan.

Ya, suatu hari, ketika dia berada di gua Hira, malaikat Jibril mendatanginya dan menyampaikan kepadanya pesan atau wahyu Allah yang tertuang dalam surat Al-Alaq ayat 1-5 berikut ini:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1)

خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2)

اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3)

الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4)

(5) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

“Bacalah dalam nama Tuhanmu Yang menciptakan, menciptakan manusia dari segumpal darah (darah yang membeku): Baca dan Tuhanmu Maha Pengasih, yang mengajarkan manusia dengan pena, mengajari manusia apa yang dia tidak tahu.”

Wahyu di atas adalah ayat pertama yang terungkap, dan tanggalnya adalah tanggal 27 Rajab, tahun ke-40 Gajah (610 M). Ketika Muhammad kembali ke rumah, dia dihibur dan diyakinkan oleh Khadijah.

Nabi Muhammad SAW takut orang lain akan mengabaikan wahyu yang diterimanya dan mengolok-olok bahwa ia hanya berhalusinasi. Namun akhirnya Muhammad yakin dengan wahyu yang diterimanya dan Nabi kemudian berdakwah secara sembunyi-sembunyi untuk bisa menyampaikan Keesaan Tuhan dan mengajak umat manusia bersatu untuk menghancurkan takhayul, kebodohan dan ketidakimanan kepada Tuhan.

Di awal wahyu ini, Muhammad yakin bahwa dia bisa membedakan pikirannya sendiri dari pesan-pesannya. Sahih al-Bukhari meriwayatkan Muhammad menggambarkan wahyu sebagai, “Kadang-kadang (terungkap) seperti dering lonceng,” dan Aishah melaporkan, “Saya melihat Nabi diilhami secara ilahi pada hari yang sangat dingin dan memperhatikan keringat menetes dari nya dahi (saat Inspirasi berakhir). ”

Umat ​​Muslim percaya bahwa Quran diturunkan secara lisan dari Tuhan kepada Muhammad melalui malaikat Jibril secara bertahap selama kurang lebih 23 tahun, dimulai pada 22 Desember 609 M, ketika Muhammad berusia 40, dan diakhiri pada 632 M, tahun kematiannya.

Selama tiga tahun pertama Muhammad menjadi Nabi Utusan Allah, ia mendakwahkan Islam secara sembunyi-sembunyi dan hanya di antara kerabat dekat dan kenalan dekatnya. Menurut sejarah istri Muhammad, Khadijah, adalah orang pertama yang percaya bahwa dia adalah seorang nabi.

Selain Khadijah, orang pertama yang percaya adalah sepupu Muhammad yang berusia sepuluh tahun, Ali ibn Abi Thalib, teman dekat Abu Bakar, dan putra angkat Zaid. Pada tahun keempat kenabian Muhammad, sekitar tahun 613, ia diperintahkan oleh Tuhan untuk mempublikasikan dakwahnya tentang ajaran tauhid, hanya menyembah kepada Allah semata.

Ajaran awal Nabi Muhammad SAW ditandai dengan desakannya pada keesaan Tuhan, kecaman terhadap politeisme, keyakinan pada penghakiman terakhir dan balasannya, serta keadilan sosial dan ekonomi. Kebanyakan orang Mekah mengabaikan dan mengejeknya, meskipun beberapa menjadi pengikutnya.

Ada beberapa kelompok utama pemeluk Islam awal: adik laki-laki dan anak dari pedagang besar; orang-orang yang telah jatuh dari kasta pertama suku mereka atau gagal mencapai kasta pertama dan orang asing yang lemah, kebanyakan tidak terlindungi.

Oposisi di Mekah

Menurut Ibn Sad, salah satu Sahabat Nabi Muhammad SAW, penentangan dakwah Nabi di Mekah dimulai ketika Muhammad menyampaikan ayat-ayat yang mengutuk penyembahan berhala dan kemusyrikan.

Namun, Quran menyatakan bahwa kejadian itu dimulai ketika Muhammad mulai berkhotbah di depan umum. Saat Islam menyebar, Muhammad mengancam suku-suku dan penguasa Mekah karena kekayaan mereka bergantung pada Ka’bah. Khotbah Muhammad sangat menyinggung suku Quraisy karena mereka menjaga Ka’bah dan menarik kekuatan politik dan agama mereka dari tempat pemujaan musyriknya.

Suku-suku penguasa Mekah menganggap Muhammad sebagai bahaya yang dapat menimbulkan ketegangan yang mirip dengan persaingan antara Yudaisme dan Politeisme Badui di Yathrib. Para pedagang di Mekah berusaha meyakinkan Muhammad untuk meninggalkan dakwahnya dengan menawarkan Muhammad untuk masuk ke lingkaran dalam pedagang dan pernikahan yang menguntungkan. Namun, Muhammad menolak kedua tawaran tersebut.

Nabi Muhammad SAW hadir untuk mendirikan sebuah konsepsi kehidupan yang mulia, dan untuk memimpin umat manusia menuju terang dalam keimanan dan kebahagiaan surgawi. Wahyu awal diikuti dengan jeda tiga tahun (periode yang dikenal sebagai fatra) di mana Muhammad merasa tertekan dengan dakwah sembunyi-sembunyinya.

Nabi selanjutnya lebih banyak berdoa dan beribadah. Ketika wahyu Allah turun lagi, Muhamad akhirnya mulai kembali yakin dan berdakwah secara terang-terangan. Pesan dakwah Muhammad sendiri adalah menantang tatanan sosial tradisional di Mekah.

Suku Quraisy yang menguasai Ka’bah mulai menganiaya umat Islam dan banyak pengikut Muhammad menjadi syuhada. Pada awalnya, oposisi terbatas pada ejekan dan sarkasme, tetapi kemudian berubah menjadi penganiayaan yang memaksa sebagian pengikut nabi yang masuk Islam hijrah ke Abyssinia (sekarang Ethiopia).

Namun Suku Quraisy begitu murka dengan kecepatan Muhammad mendapatkan pengikut baru, orang Quraisy mengusulkan untuk mengadopsi bentuk ibadah yang umum untuk menyaingi ajaran Islam dan ibadah inipun dikecam oleh Quran.

Dalam menghadapi suku Quraisy, Muhammad selalu dilindungi dari bahaya fisik atas kuasa Allah. Sayang, para pengikutnya tidak seberuntung Nabi karena akhirnya banyak yang berguguran. Sumayyah binti Khabbab, seorang budak dari pemimpin Mekah terkemuka Abu Jahl, wafat sebagai syahid Islam yang pertama. Tuannya membunuh Sumayyah dengan tombak ketika dia menolak untuk melepaskan keyakinannya. Kemudian Bilal, seorang budak Muslim lainnya, disiksa oleh Umayyah ibn Khalaf, yang meletakkan lebih banyak batu lagi di dadanya untuk memaksa dia pindah agama, sampai dia meninggal.

Kematian Khadijah dan Abu Thalib pada 619 Masehi

Istri Muhammad Khadijah dan paman Abu Thalib keduanya meninggal pada tahun 619 M, tahun yang kemudian dikenal sebagai “Tahun Kesedihan”. Dengan kematian Abu Thalib, Abu Lahab mengambil alih kepemimpinan klan Bani Hasyim.

READ:  Kisah Hidup Ummu Habibah binti Abu Sufyan

Segera setelah itu, Abu Lahab menarik perlindungan klan dari Muhammad, membahayakan dirinya dan pengikutnya. Muhammad mengambil kesempatan ini untuk mencari rumah baru bagi dirinya dan para pengikutnya.

Setelah beberapa negosiasi gagal, Muhammad akhirnya menemukan harapan dengan beberapa orang dari Yathrib (kemudian disebut Madinah). Penduduk Arab di Yathrib sendiri mengenal sekali dengan ajaran ketauhidan dan masyarakatnya tahu bahwa kelak akan ada penampakan seorang nabi yang akan membimbing mereka dan ternyata sosok nabi itu adalah Muhammad.

Orang yang masuk Islam sendiri hampir semua berasal dari suku Arab di Madinah. Kemudian pada bulan Juni tahun berikutnya, 75 orang muslim datang ke Mekah untuk berziarah dan bertemu Muhammad.

Kemudian sebuah delegasi dari Madinah, yang terdiri dari perwakilan dua belas suku penting Madinah, mengundang Muhammad sebagai orang luar yang netral untuk menjadi ketua penengah bagi seluruh komunitas.

Terjadilah pertempuran di Yathrib (Madinah) dan melibatkan penduduk Arab dan Yahudi selama sekitar seratus tahun sebelum 620. Pembantaian terjadi berulangkali karena ketidaksepakatan atas klaim yang dihasilkan, terutama setelah pertempuran Bu’ath, di mana semua suku terlibat.

Pertempuran ini memperjelas konsepsi kesukuan tentang perseteruan darah dan mata ganti mata tidak lagi bisa diterapkan kecuali ada satu orang dengan otoritas untuk mengadili dalam kasus-kasus yang disengketakan.

Perwakilan dari Madinah kemudian berjanji pada diri mereka sendiri dan sesama warganya untuk menerima Muhammad ke dalam komunitas mereka dan secara fisik melindunginya sebagai salah satu dari mereka.

Nabi Muhammad SAW Hijrah pada 622 M.

Hijrah adalah perpindahan Nabi Muhammad dan pengikutnya dari Mekah ke Madinah. Hijrah ini menempuh setidaknya 320 kilometer (200 mil) utara, pada tahun 622 M. Muhammad menginstruksikan pengikutnya untuk hijrah ke Madinah sampai semuanya meninggalkan Mekah. Menurut tradisi, orang Mekah, yang khawatir dengan kepergiannya, berencana untuk membunuh Muhammad. Pada bulan Juni 622, ketika dia diperingatkan tentang rencana tersebut, Muhammad menyelinap keluar dari Mekah bersama temannya, Abu Bakar (Meneladani Kisah Abu Bakar As-Siddiq).

Pada malam keberangkatannya, rumah Muhammad dikepung oleh orang-orang Quraisy. Kemudian Muhammad keluar dari rumahnya, ia membaca ayat Alquran dan melemparkan segenggam debu ke arah para pengepung agar mereka tidak melihat Nabi Muhammad dan pengikutnya.

Ketika orang Quraisy mengetahui pelarian Muhammad, mereka mengumumkan hadiah besar kepada siapapun yang berhasil membawa Muhammad kembali kepada mereka, hidup atau mati. Semua orang berusaha mengejar ke segala arah untuk menemukan Muhammad.

Setelah delapan hari perjalanan, Muhammad memasuki pinggiran Madinah, tetapi tidak langsung masuk ke kota. Dia berhenti di sebuah tempat bernama Quba, beberapa mil dari kota utama, dan mendirikan sebuah masjid di sana.

Setelah empat belas hari tinggal di Quba, Muhammad berangkat ke Madinah, ikut dalam shalat Jumat pertamanya dalam perjalanan, dan setelah mencapai kota itu, ternyata ia disambut dengan ramah oleh orang-orangnya.

Nabi Muhammad SAW di Madinah

Setibanya di Madinah, Muhammad mempersatukan suku-suku tersebut dengan menyusun Undang-undang Dasar Madinah, yang merupakan kesepakatan resmi antara Muhammad dan semua suku dan keluarga penting Madinah, termasuk Muslim, Yahudi, Kristen, dan pagan. Konstitusi ini melembagakan hak dan tanggung jawab dan menyatukan komunitas Madinah yang berbeda ke dalam negara Islam pertama, Umat.

Ya, di antara hal-hal pertama yang dilakukan Muhammad untuk meredakan keluhan di antara suku-suku Madinah adalah menyusun sebuah dokumen yang dikenal sebagai Konstitusi Madinah, “membentuk semacam persekutuan atau federasi” di antara delapan suku Madinah dan para kaum muhajirin (orang yang pindah dari Mekah ke Madinah) muslim dari Mekah.

Dokumen tersebut menjelaskan hak dan kewajiban semua warga negara dan hubungan berbagai komunitas di Madinah (termasuk antara komunitas Muslim dan komunitas lain, khususnya Yahudi dan “Ahli Kitab” lainnya).

Fitur penting dari Konstitusi Madinah adalah definisi ulang hubungan antar Muslim. Konstitusi yang juga disebut Piagam Madinah ini menetapkan hubungan iman di atas ikatan darah dan menekankan tanggung jawab individu.

Identitas kesukuan masih penting, dan digunakan untuk merujuk pada kelompok yang berbeda, tetapi konstitusi menyatakan bahwa “ikatan utama yang mengikat” bagi umat yang baru dibentuk adalah agama.

Undang-undang ini tentu kontras dengan norma-norma Arab pra-Islam, yang merupakan masyarakat kesukuan secara menyeluruh. Konstitusi Madinah adalah peristiwa penting dalam perkembangan kelompok kecil Muslim di Madinah yang kemudian beralih menjadi komunitas dan kerajaan Muslim yang lebih besar.

Saat shalat di Masjid al-Qiblatain di Madinah pada 624 M, Muhammad menerima wahyu bahwa dia harus menghadap Mekah daripada Yerusalem selama sholat. Muhammad menyesuaikan dengan arah yang baru, dan sahabat yang sholat bersamanya mengikuti arahannya, memulai tradisi menghadap Mekah saat sholat.

Sekitar tahun 628 M, negara Islam yang baru lahir agak terkonsolidasi ketika Muhammad meninggalkan Madinah untuk menunaikan ibadah haji di Mekah. Orang Quraish mencegat Muhammad dalam perjalanannya dan membuat perjanjian dengan Muslim.

Meskipun ketentuan perjanjian Hudaybiyyah mungkin tidak menguntungkan bagi umat Islam di Madinah, Alquran menyatakannya sebagai kemenangan yang jelas. Sejarawan Muslim menyatakan bahwa perjanjian tersebut memobilisasi kontak antara kaum pagan Mekah dan Muslim Madinah. Perjanjian tersebut menunjukkan bahwa kaum Quraisy mengakui Muhammad sebagai sederajat dan Islam sebagai kekuatan yang sedang bangkit.

Setelah delapan tahun berperang dengan Mekah dan akhirnya menaklukkan kota itu pada tahun 630 M, Muhammadpun menyatukan Arab menjadi satu negara Islam.

Awal dari Perang Bersenjata Umat Muslim untuk Menegakkan Islam

Awal dari terjadinya perang adalah ketika beberapa kaum muhajirin diserbu oleh kafilah Mekah karena kaum muhajirin masih berdagang dan bercocok tanam di tanah miliknya meski mereka telah pindah ke Madinah. Respon terhadap penganiayaan dan upaya untuk memberi nafkah bagi keluarga Muslim memicu konflik bersenjata antara Muslim dan Quraisy kafir Mekah.

Nabi Muhammad SAW menyampaikan ayat-ayat Alquran yang mengizinkan orang Muslim, “Mereka yang telah diusir dari rumah mereka,” untuk melawan orang Mekah dalam menentang penganiayaan.

Serangan kafilah memprovokasi dan menekan Mekah dengan mengganggu perdagangan, dan memungkinkan Muslim untuk memperoleh kekayaan, kekuasaan, dan kejayaan sambil mendorong penyerahan Mekah pada keyakinan baru. Hingga kemudian muncullah beberapa perang, di antaranya adalah :

  1. Pertempuran Badar

Pada bulan Maret 624, Muhammad memimpin 300 prajurit dalam penyerbuan kafilah pedagang Mekah. Kaum Muslim menyerang kafilah di Badar, tetapi pasukan Mekah mengintervensi dan Pertempuran Badar dimulai.

Meski kalah jumlah lebih dari tiga berbanding satu, kaum Muslim memenangkan pertempuran tersebut, menewaskan sedikitnya 45 lima orang Mekah. Muhammad dan para pengikutnya melihat kemenangan sebagai peneguhan iman mereka, dan Muhammad berkata kemenangan itu dibantu oleh sejumlah malaikat yang tak terlihat. Kemenangan tersebut memperkuat posisi Muhammad di Madinah dan menghilangkan keraguan awal di antara para pengikutnya.

  1. Pertempuran Uhud
READ:  Sejarah Hidup Abdurrahman bin Auf Dikenal Sebagai Orang Suskses

Untuk memelihara kemakmuran ekonomi, orang Mekah perlu mengembalikan kejayaan mereka setelah kekalahan mereka di Badar. Abu Sufyan, pemimpin suku Quraisy yang berkuasa, mengumpulkan 3.000 tentara dan berangkat untuk menyerang Madinah. Muhammad memimpin pasukan muslimnya ke Mekah untuk berperang di Pertempuran Uhud pada tanggal 23 Maret 625 M.

Ketika pertempuran tampaknya mendekati kemenangan yang menentukan, para pemanah muslim meninggalkan pos yang ditugaskan untuk menyerang kamp Mekah. Veteran perang Mekah Khalid ibn al-Walid (Khalid Bin Walid Panglima Termasyur) memimpin serangan mendadak, yang menewaskan banyak Muslim dan melukai Muhammad.

Kaum Muslimin mundur ke lereng Uud. Orang Mekah tidak mengejar pasukan muslim lebih jauh, tetapi berbaris kembali ke Mekah menyatakan kemenangan. Bagi Muslim, pertempuran itu merupakan kemunduran yang signifikan. Menurut Alquran, kerugian di Uhud sebagian merupakan hukuman dan sebagian lagi ujian untuk ketabahan.

  1. Perang Hunain

Setelah delapan tahun berperang dengan suku-suku Mekah, Muhammad mengumpulkan 10.000 tentara Muslim dan berbaris di kota Mekah. Serangan itu sebagian besar tidak terbantahkan dan Muhammad mengambil alih kota dengan sedikit pertumpahan darah.

Kebanyakan orang Mekah masuk Islam. Muhammad menyatakan amnesti untuk pelanggaran masa lalu, kecuali sepuluh pria dan wanita yang mengejek dan mengolok-oloknya dalam nyanyian dan ayat.

Beberapa dari orang-orang ini kemudian diampuni. Muhammad menghancurkan berhala pagan di Ka’bah dan kemudian mengirim pengikutnya untuk menghancurkan semua kuil pagan yang tersisa di Arab Timur.

Nabi Muhammad SAW Wafat

Setelah penaklukan Mekah, Muhammad dikejutkan oleh ancaman militer dari sekutu suku Hawazin, yang mengumpulkan pasukan 2 kali lebih besar dari Muhammad. Banu Hawazin adalah musuh lama orang Mekah. Mereka bergabung dengan Banu Thaqif, yang mengadopsi kebijakan anti-Mekah karena penurunan martabat orang Mekah. Namun Muhammad mengalahkan suku Hawazin dan Thaqif dalam Pertempuran Hunayn.

Pada akhir tahun ke-10 setelah hijrah ke Madinah, Muhammad melakukan ziarah Islam pertamanya yang benar, dengan demikian mengajari para pengikutnya aturan yang mengatur berbagai upacara Haji Besar tahunan.

Pada tahun 632, beberapa bulan setelah kembali ke Madinah dari Ziarah Perpisahan, Muhammad jatuh sakit dan meninggal. Pada saat Muhammad meninggal, sebagian besar Jazirah Arab telah masuk Islam, dan dia telah menyatukan Arab menjadi satu pemerintahan agama Muslim.

Islam Setelah Nabi Muhammad Wafat

Muhammad mempersatukan suku-suku Arab menjadi satu pemerintahan agama Muslim Arab di tahun-tahun terakhir hidupnya. Dia mendirikan Semenanjung Arab baru yang bersatu, yang mengarah ke Kekhalifahan Rasyidin dan Umayyah dan ekspansi pesat kekuatan Muslim selama abad berikutnya.

Wafatnya Nabi Muhammad SAW pada tahun 632 M, menyebabkan perselisihan di antara para pengikutnya tentang penentuan penggantinya. Sahabat Muhammad yang terkenal, Umar ibn al-Khattab (Umar bin Khattab Khalifah Pengganti Nabi Muhammad) menunjuk Abu Bakar, sebagai pengganti Muhammad.

Dengan dukungan tambahan, Abu Bakar dikukuhkan sebagai khalifah pertama (penerus agama Muhammad) pada tahun yang sama. Pilihan ini dibantah oleh beberapa sahabat Muhammad, yang berpendapat bahwa Ali ibn Abi Thalib (Sejarah dan Biografi Ali bin Abi Thalib), sepupu dan menantunya, telah ditunjuk sebagai penerus oleh Muhammad di Ghadir Khum.

Ali adalah sepupu pertama Muhammad dan kerabat pria terdekat, serta menantu laki-lakinya, setelah menikahi putri Muhammad, Fatimah. Ali akhirnya menjadi khalifah Sunni keempat. Ketidaksepakatan tentang penerus sejati Muhammad ini menyebabkan perpecahan besar dalam Islam antara apa yang menjadi pengakuan Sunni dan Syiah. Golongan inilah  yang masih bertahan hingga hari ini.

Muslim Sunni percaya dan mengkonfirmasi bahwa Abu Bakar dipilih dengan prosedur yang tepat. Sunni lebih lanjut berpendapat bahwa seorang khalifah idealnya dipilih melalui pemilihan atau konsensus komunitas.

Sementara umat muslim Syiah percaya bahwa hanya Tuhan yang menunjuk seorang nabi, hanya Tuhan yang memiliki hak prerogatif untuk menunjuk penerus nabinya. Mereka percaya Tuhan memilih Ali sebagai penerus Muhammad dan menjadi khalifah pertama Islam.

Prinsip dan Praktik Dasar Islam yang Didakwahkan Nabi Muhammad SAW

Islam adalah agama monoteistik. Islam mengajarkan umatnya untuk percaya bahwa Tuhan itu satu dan tidak ada bandingannya. Tujuan keberadaan umat Islam sendiri adalah untuk menyembah Allah dan percaya Muhammad sebagai nabi terakhir Tuhan.

Alquran sendiri adalah wahyu Tuhan yang tidak akan berubah dan wajib menjadi pedoman umat Islam. Konsep dan praktik keagamaan Islam yang diajarkan mencakup 5 Rukun Islam. Rukun ini menyentuh hampir setiap aspek kehidupan dan masyarakat, dari keuangan dan kesejahteraan hingga status perempuan dan lingkungan.

Lima Rukun Islam adalah lima tindakan dasar dalam Islam. Rukun ini merupakan landasan kehidupan umat  muslim. Adapun 5 rukun Islam itu sendiri adalah:

  1. Syahadat

Syahadat  artinya adalah bersaksi bahwa hanya ada satu Tuhan yakni Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Syahadat adalah sebuah pernyataan yang biasanya diucapkan dalam bahasa Arab Asy-hadu allaa ilaaha illallaahu wa asy-hadu anna muhammadar rosuulullah lā ʾilāha ʾillā-llāhu muḥammadun rasūlu-llāh. Aku bersaksi tidak ada Tuhan selain Tuhan (dan) Muhammad adalah utusan Tuhan.”

  1. Shalat

Shalat  terdiri dari lima waktu, nama yang mengacu pada waktu shalat adalah Subuh (waktu subuh), Dzuhur (siang), ʿAṣr (sore), Maghrib (malam), dan ʿIsyāʾ (malam). Semua salat ini diucapkan sambil menghadap ke arah Ka’bah di Mekah, dan disertai dengan serangkaian posisi yang ditetapkan dalam alquran seperti membungkuk dengan tangan di atas lutut, berdiri, sujud, dan duduk dalam posisi khusus.

  1. Zakāt

Zakat adalah praktik pemberian amal berdasarkan akumulasi kekayaan. Zakat adalah tanggung jawab pribadi setiap muslim untuk meringankan kesulitan ekonomi orang lain dan berjuang untuk menghilangkan ketidaksetaraan. Zakāt terdiri dari membelanjakan sebagian dari kekayaan seseorang untuk kepentingan orang miskin atau yang membutuhkan.

  1. Puasa

3 jenis puasa yang diakui oleh Al-Qur’an adalah puasa Ramadan, puasa sebagai kompensasi untuk taubat, dan puasa nazar. Ritual puasa merupakan kewajiban wajib selama bulan Ramadhan. Puasa dimaksudkan untuk memungkinkan umat Islam mencari kedekatan dan mencari pengampunan dari Tuhan, untuk mengungkapkan rasa syukur dan ketergantungan mereka kepada-Nya, untuk menebus dosa-dosa masa lalu mereka, dan untuk mengingatkan mereka tentang yang membutuhkan.

  1. Haji

Setiap Muslim yang berbadan sehat diwajibkan untuk menunaikan ibadah haji ke Mekah setidaknya sekali dalam hidupnya. Ritual utama haji termasuk berjalan tujuh kali mengelilingi Ka’bah, yang disebut Tawaf, menyentuh Hajar Aswad (diistilahkan Istilam), melakukan perjalanan tujuh kali antara Gunung Safa dan Gunung Marwah, yang disebut Sa’i dan melempar jumrah di Mina, disebut ramy al jumrah.

quotes umar bin khattab
Motivasi Hijrah Cinta

Dengan mengetahui sejarah panjang Nabi Muhammad SAW yang membawa ajaran Islamnya, maka sudah sepatutnya kita sebagai umat Islam untuk meyakini ajaran agama ini. Bertaqwa kepada Allah SWT adalah sebaik-baiknya kita mengamalkan apa yang diajarkan oleh Nabi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *