Sa’ad bin Abi Waqqas

Sa’ad bin Abi Waqqas Sahabat Rassullah

Sa’ad bin Abi Waqqas ini adalah seorang pemuda Mekkah terhormat dari garis nasab yang bagus. Ia memiliki ayah dan ibu yang terhormat. Ia terkenal dengan perasaan yang lembut dan kepandaiannya. Seperti apakah kisah dari sahabat Nabi satu ini? Sa’ad bin Abi Waqqas merupakan Salah Satu Sahabat Nabi.

Masa Kecil Sa’ad bin Abi Waqqas

Sa’d adalah sebuah cahaya yang sedang bersinar di kota Mekkah saat usianya masih muda. Ia memiliki perasaan yang lembut dan amat berbakti kepada kedua orang tuanya, apalagi kepada ibunya tercinta,

Sa’ad bin Abi Waqqas
Sumber: Photo by Hitesh Choudhary on Unsplash

Meski pada saat itu Sa’d akan berusia 17 tahun, namun ia sudah memliki pikiran layaknya orang dewasa dan sangat bijak layaknya orang tua.

Ia tidak pernah melakukan senda gurau yang biasa dilakukan oleh anak-anak seumurannya. Di saat anak usianya suka bermain ia justru tertarik mempersiapkan anak panah dan memperbaiki busur panah. Setiap harinya ia suka berlatih memanah selayaknya orag yang sedang mempersiapkan diri untuk sebuah perang besar.

Sejak kecil ia juga tidak pernah senang dengan apa yang ia lihat pada kaumnya yang memiliki akidah yang rusak dengan suka menyembah berhala. Apapun yang dilakukan oleh masyarakat sekitarnya ia sangat membencinya hingga seolah ia ingin memiliki tangan yang agar bisa menghancurkan orang-orang yang memiliki kebiasaan menyembah berhala. Ia ingin sekali menyingkirkan kedzaliman yang mereka perbuat.

Dalam kondisi demikian, Allah Swt kemudian berkehendak untuk memulyakan semua manusia dengan tangan lembut yang dimiliki oleh Muhammad bin Abdullah Saw. dan di tangan Nabi Muhammad inilah adalah sebuah bintang Allah yang tidak pernah redup: yaitu Kitabullah…

Setelah Nabi datang sebagai utusan Allah, maka Sa’d bin Abi Waqash memenuhi panggilan petunjuk dan kebenaran yang diajarkan oleh Muhammad. Dia bahkan menjadi orang ketiga pertama yang masuk Islam.

READ:  Sejarah dan Biografi Ali bin Abi Thalib

Oleh karenanya, sering kali Sa’ad bangga menjadi orang ketiga yang masuk dalam Islam. Rasulullah Saw sendiri amat bergembira dengan keislaman Sa’d karena dalam diri Sa’d ada tanda-tanda kecerdasan dan kegagahan.

Ibarat kata Sa’ad yang muda ini adalah sebuah bulan sabit yang sebentar lagi akan menjadi sebuah purnama. Sa’d juga memiliki garis keturunan yang mulia, dan juga posisi terhormat sehingga kedudukannya tersebut membuat semua pemuda Mekkah mulai mengikuti jejaknya.

Lebih dari itu, Sa’d adalah kerabat Rasulullah Saw. Sebab ia berasal dari Bani Zuhrah. Sedangkan Bani Zuhrah adalah keluarga Aminah binti Wahb, ibunda Rasulullah Saw.

Rasulullah Saw amat bangga dengan hubungan kerabat ini.

Diriwayatkan bahwa Nabi Saw saat itu sedang duduk bersama beberapa orang dari sahabatnya, lalu Beliau melihat Sa’d bin Abi Waqash datang. Rasul Saw bersabda kepada orang-orang yang ada di sekelilingnya: “Inilah pamanku… maka setiap orang, perlihatkanlah kepadaku pamannya!”

Gejolak Keislaman Sa’ad bin Abi Waqqas

Namun sayangnya, keislaman Sa’d bin Abi Waqash tidaklah berjalan dengan mudah dan tenang. Pemuda yang beriman ini merasakan ujian terberat dan paling keras menimpanya. Bahkan saking ia merasa ujian yang ia terima terlalu kerasnya, Allah Swt menurunkan sebuah ayat Al Qur’an tentang dirinya.

Ya, 3 hari sebelum ia masuk Islam, ia bermimpi seolah tenggelam dalam kegelapan yang bertingkat-tingkat. Saat Sa’ad sedang berusaha ingin selamat dari gelombang kegelapan tersebut, kemudian ada sebuah bulan yang menerangi dan Sa’ad pun kemudian mengikutinya.

Ia kemudian melihat ada segerombolan orang yang telah mendahuluinuya dan iapun jalan menuju bulan tersebut. Ia kemudian melihat Zaid bin Haritsah, Ali bin Abi Thalib dan Abu Bakar Shiddiq. Ia lalu bertanya kepada mereka: ‘Sejak kapan kalian berada di sini?! Mereka menjawab: ‘Sejak 1 jam yang lalu”

READ:  Meneladani Kisah Abu Bakar As-Siddiq

Begitu siang menjelang, Sa’ad mendengar bahwa Rasulullah Saw telah melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi untuk menarik orang masuk Islam. Sa’ad mengerti bahwa Allah Swt menghendaki kebaikan atas dirinya, oleh sebab itu, Allah hendak mengeluarkan ia dari kegelapan menuju cahaya.

Lalu Sa’ad mendatanginya segera, dan ia menjumpai Nabi Muhammad di Syi’b Jiyad. Saat itu Nabi sedang melakukan shalat Ashar. Sa’ad pun tertarik untuk salat dan ia pun inginmasuk Islam. Sa’ad ingin tidak ada yang mendahuluinya mauk Islam selain orang-orang yang ia lihat dalam mimpinya tadi.

Setelah ia masuk ke agama Islam, ia berkata pada ibunya dan begitu ibunya mendengar bahwa ia telah masuk Islam, ibunya langsung marah. Namun Sa’ad dalah anak yang amat berbakti kepada ibunya dan amat mencintainya.

Ibunya datang menemuinya kemudian berkata: “Wahai Sa’d, agama apakah yang telah kau anut dan telah memalingkan kamu dari agama ibu dan bapakmu? Demi Allah, jika engkau tidak meninggalkan agama barumu itu maka aku tidak akan makan dan minum sehingga aku mati. Sehingga hatimu akan bersedih karenaku, dan engkau akan menyesali tindakanmu itu. Dan manusia karenanya akan mencibirmu untuk selamanya.”

Sa’ad lalu berkata: “Janganlah ibu lakukan itu! Aku tidak akan meninggalkan agamaku karena alasan apapun.”

Namun sayangnya ibu tetap melakukan janjinya. Ia tidak mau makan dan minum. Ia terus melakukan hal itu berhari-hari, tidak makan dan tidak minum. Badannya menjadi kurus, tulang punggungnya menjadi bengkok dan kekuatannya menurun drastis.

Sa’ad sendiri selalu mendatangi ibu dan ayahnya dari waktu ke waktu untuk memintanya agar mau memakan sedikit makanan atau sedikit minum. Namun orangtuanya menolak permintaannya dengan keras. Keduanya masih bersumpah untuk tidak makan dan minum hingga mati atau Sa’ad harus meninggalkan agamanya.

READ:  Umar bin Khattab Khalifah Pengganti Nabi Muhammad

Pada saat itu Sa’ad mengkatakan kepad Ibuanya: “Wahai ibua, meski aku begitu mencintaimu, namun cintaku kepada Allah dan Rasul-Nya lebih besar lagi. Demi Allah, jika engkau memiliki 1000 nyawa, lalu satu per satu nyawamu itu keluar dari tubuhmu, maka aku tidak akan pernah meninggalkan agamaku ini demi apapun juga!”

Begitu ia melihat kesungguhan yang disampaikan Sa’ad, ibunya mau makan dan minum dengan hati yang kesal. Lalu turunlah firman Allah Swt:

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (QS. Luqman [31] :15)

Ya, hari di mana Sa’ad bin Abi Waqqas masuk Islam adalah hari dimana kaum muslimin merasakan adanya kebaikan pada Islam sangat banyak. Allah Swt mengaungerahkan Sa’d umur yang panjang dan hidup dalam banyak harta yang berlimpah.

Akan tetapi saat Sa’ad bin Abi Waqqas menjelang wafat, Sa’ad meminta sebuah jubah yang terbuat dari shuf atau kain wol yang sangat  tebal. Sa’ad bin Abi Waqqas kemudian berkata: “Kafankan aku dengan kain itu, sebab aku menghadapi pasukan musyrikin dalam perang Badar juga dengan mengenakan baju itu. Aku berharap dapat berjumpa dengan Allah sambil mengenakan shuf itu..

Kemudian Sa’ad bin Abi Waqqas wafat dengan keadaan yang ia harapkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *