Usamah bin Zaid bin Haritsah

Usamah bin Zaid bin Haritsah adalah Seorang Panglima Perang

Usamah bin Zaid bin Haritsah adalah shabat Nabi yang menjadi seorang panglima perang termuda. Usamah adalah putra dari sahabat Nabi Zaid bin Haritsah, sosok panglima yang kuat, sehingga tidak heran jika putranya memiliki kekuatan yang sama sebagaimana ayahnya. Seperti apakah kehidupan Usamah bin Zaid itu sendiri?

Biografi Usamah bin Zaid bin Haritsah

Kelahiran Usama bin Zaid bin Haritsah

Pada tahun ketujuh sebelum hijrah di Mekkah, kota tersebut dilanda berbagai banyak penderitaan yang hadir dari kaum-kaum kafir Quraisyi. Rasulullah Saw saat itu juga sedang menderita karena siksaan kaum Quraisy kepada beliau dan kepada para sahabat beliau.

Derita dakwah yang Nabi emban selalu mendapatkan pertentangan dari orang-orang asli Mekah hingga akhirnya Nabi begitu bahagia saat sahabatnya Zaid bin Haritsah dikaruniai oleh seorang putra.

Ya, ada rona kebahagiaan di kehidupan Nabi ketika Ummu Aiman, istri Zaid bin Haritsah telah melahirkan seorang anak. Anak yang membuat rona bahagia di wajah Nabi itu adalah Usamah bin Zaid.

Tidak seorang pun sahabat Rasulullah Saw yang merasa aneh dengan kebahagiaan Nabi atas lahirnya anak Zaid bin Haritsah, karena semua sahabat ahu  siapa posisi kedua orang tuanya bagi Beliau.

Ibu dari Usamah,Barakah al Hasanah yang dikenal dengan Ummu Aiman merasa sangat bahagia telah dikaruniai oleh sang buah hati. Ummu Aiman sendiri dahulunya adalahdari  budak Aminah binti Wahab, ibunda Rasulullah Saw.

Sepeninggal ibundanya, Aminah, Ummu Aiman membesarkan Rasulullah dalam hidupnya. Ia mengasuh Rasulullah Saw setelah ibunda Beliau wafat. Semenjak Rasul Saw diasuh oleh Ummu Aiman, Nabi tidak kenal siapapun sebagai ibunya kecuali hanya Ummu Aiman seorang.

Rasul Saw sangat menyayangi Ummu Aiman sebagai orang tuanya. Beliau sering berkata:

“Dia adalah ibuku setelah ibu kandungku, dan anggota keluargaku yang tersisa.”

Selain ibu Usamah adalah orang yang beruntung karena mengasuh Sang Nabi dari kecil, Usamah juga orang yang beruntung karena ayahnya adalah orang yang paling disayang oleh Rasulullah Saw yaitu Zaid bin Haritsah.

READ:  Sejarah Hidup Abdurrahman bin Auf Dikenal Sebagai Orang Suskses

Zaid bin Haritsah merupakan anak yang diadopsi oleh Rasulullah Saw dan ia juga sahabat Rasul yang banyak mengetahui apa saja yang menjadi rahasia Rasulullah Saw. Zaid bin Haritsah adalah orang yang sangat beruntung karena menjadi salah seorang anggota keluarga Rasul dan merupakan orang yang paling Beliau cinta setelah Islam.

Kaum musliminpun sangat bergembira dengan lahirnya Usamah bin Zaid, rasanya seperti belum pernah ada bayi yang terlahir selain kelahiran dirinya. Ya, apapun yang membuat Nabi Muhammad bahagia, maka itu juga akan membuat umat muslim semua bahagia. Setiap hal yang membuat Nabi Saw senang, maka juga akan membuat senang hati mereka.

Maka kaum musliminpun memberikan gelar kepada anak yang beruntung ini dengan panggilan Al Hibb wa Ibnul Hibb. Arti dari al hibb wa ibnul hibb atau orang yang disayangi dan anak dari orang yang disayangi).

Kaum muslimin tidak berlebihan saat mereka memberikan gelar kepada anak kecil yang baru lahir dan dinamakan Usamah ini. Hal ini wajar mengingat Rasul Saw amat mencintai dia sehingga dunia merasa cemburu kepadanya. Usamah sendiri bisa dikatakan hampir seusia dengan cucu Rasul yang bernama Al Hasan putra dari anak Nabi Fathimah al Zahra.

Usamah Saat Dewasa

Saat Usamah sudah beranjak dewasa, maka terlihatlah sifat mulia dari dalam dirinya yang membuat ia sangat layak menjadi orang kesayangan Rasulullah Saw. Usamah bin Zaid bin Haritsah adalah orang yang amat cerdas.

Bisa dikatakan ia sangat mirip dengan ayahnya, seorang pemberani yang luar biasa. Ia juga merupakan orang yang bijak, dan dapat menempatkan segala urusan pada tempatnya. Usamah sangat terjaga dari banyak hal yang membuat ia nista. Ia adalah sosok yang sanga bertaqwa kepada Allah Swt serta memiliki sifat wara’ yang membuat Allah sangat cinta kepadanya.

READ:  Umar bin Khattab Khalifah Pengganti Nabi Muhammad

Pada peristiwa Uhud, Usamah bin Zaid beserta anak-anak dan Para Sahabat Nabi yang lain ikut serta dalam jihad fi sabilillah. Rasulullah Saw akhirnya memilih di antara orang-orang yang ingin ikut serta ke jihad hingga akhirnya Rasul menolak keikut sertaan mereka karena dirasabelum cukup umur.

Adapun Usamah juga menjadi salah seorang yang dilarang ikut oleh Rasulullah Saw. Maka iapun kembali pulang dan menangis. Ya, dari pelupuk matanya mengalir deras air mata karena merasa sedih tidak bisa ikut berjihad di bawah panji Rasulullah Saw.

Namun Usamah tidak patah semangat, pada perang Khandaq, Usamah bin Zaid datang lagi ke Rasul bersama para pemuda lainnya dari kalangan sahabat. Usamah tidak ingin ditolak lagi hingga akhirnya ia mengganjal kakinya supaya terlihat tinggi.

Taktik Usamah akhirnya berhasil sehingga Rasul Saw memperbolehkannya ikut serta dalam jihad. Rasul Saw memilihnya dan memperbolehkan ia untuk ikut serta. Ia pun lalu membawa pedangnya untuk berjihad di jalan Allah. Usamah adalah orang termuda yang mengikuti perang saat itu di usianya yang baru 15 tahun.

Selain perang Khandaq, Usamah juga mengikuti berbagai jihad lainnya untuk berjuang bersama Rasul. Bahkan Usama juga ikut menjadi pahlawan  dengan sedikit pasukan dalam peristiwa Hunainin.

Meski saat itu kaum muslimin kalah, namun semangat Usamah bin Zaid bin Harits dan semua orang yang mengikuti perang tersebut tetap berjuang dengan penuh rasa semangat. Dengan  kelompok yang kecil namun penuh dengan rasa gagah berani ini, Rasulullah Sawpun akhirnya mampu merubah kekalahan yang beliau alami menjadi sebuah kemenangan.

Usamah bin Zaid dengan usianya yang masih belia mampu untuk melindungi kaum muslimin untuk bisa mengalahkan kaum musyrikin yang  mencelakakan pasukan muslim.

READ:  Sa’ad bin Abi Waqqas Sahabat Rassullah

Kemudian pada peristiwa perang Mu’tah, di mana usia Usamah bin Zaid masih 18 tahun ia ikut berjuang saat ayahnya  Zaid bin Haritsah menjadi panglima perang. Dalam perang tersebut, ia sangat sedih karena melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana ayahnya gugur dalam pertempuran tersebut.

Meski Zaid sangat terpukul, namun ia tidak merasa lemas dan tidak gentar sedikitpun. Ia tetap melanjutkan jihadnya di bawah komando Ja’far bin Abu Thalib yang menggantikan ayahnya. Sayangnya Ja’farpun akhirnya ikut gugur dalam perang tersebut.

Kemudian komando diambil alih oleh Abdullah bin Rawahah dan Abdullah juga menyusul kedua sahabatnya. Komando perang Mut;ah akhirnya berlanjut ke Khalid bin Walid, di bawah komandonya, pasukan muslim yang tersisa mampu lolos dari pasukan Romawi.

Pada tahun 11 Hijriyyah, Rasulullah Saw juga memerintahkan Usamah untuk menghadapi pasukan Romawi dengan ditemani Abu Ubaidah bin Al Jarrah, Umar bin Khattab, Sa’d bin Abi Waqash, Abu Bakar, dan banyak lagi para sahabat Nabi lainnya.

Di usianya yang belum genap 20 tahun itulah, Rasul Saw akhirnya memerintahkan Usamah pertama kalinya untuk menjadi seorang panglima perang dan membawa pasukannya menuju ke Al Balqa, Benteng Al Darum, Romawi. Usamah dicatat sebagai panglima termuda saat ia diangkat oleh Rasul.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *