Zainab binti Jahsh

Zainab binti Jahsh

Zainab binti Jahsh adalah sepupu dan istri Muhammad dan oleh karena itu juga seorang Ibu dari Orang-Orang Beriman. Zainab adalah istri Nabi Muhammad yang terkenal karena kemurahan hatinya.

Zainab  juga dikenal dengan nama Ummu al-Hakam dan Barra. Zainab lahir sekitar tahun 590 di Arab, dari suku Quraisy. Dia meninggal di Mekah pada tahun 640. Di bawah ini adalah cerita mengenai kisah hidup Zainab binti Jahsh.

Masa Muda Zainab binti Jahsh.

Ayah Zainab adalah Jahsh ibn Riyab, seorang imigran dari suku Asad ibn Khuzayma yang menetap di Mekah di bawah perlindungan marga Umayya. Ibunya adalah Umama binti Abdulmuthalib, seorang anggota marga Hasyim dari suku Quraisy dan saudara perempuan ayah Muhammad. Karenanya Zainab dan kelima saudaranya bisa dikatakan adalah sepupu pertama Muhammad.

Zainab dideskripsikan sebagai “seorang wanita yang berpenampilan sempurna”, berkulit putih dan indah, serta memiliki badan yang berukuran kecil. Dikatakan bahwa dia cepat marah tetapi juga cepat tenang. Dia adalah seorang penyamak kulit dan pekerja kulit yang terampil. Zainab menekuni pekerjaan ini sepanjang hidupnya, bahkan setelah dia tidak lagi membutuhkan uang.

Nama suami pertamanya tidak diketahui, tapi ia meninggal pada tahun 622. Saat itu Zainab yang telah beragama Islam termasuk di antara orang-orang yang menemani saudaranya Abdullah dalam perjalanan Hijrah ke Madinah.

Pernikahan Kedua Zainab

Sekitar tahun 625 Muhammad melamar Zainab agar dia menikah dengan anak angkatnya, Zaid ibn Haritsah. Zaid dilahirkan dalam suku Kalb tetapi ia telah diculik oleh pedagang budak. Dia dijual kepada keponakan Khadijah binti Khuwaylid. Kemudian keponakan Khadijah memberikan Zaid sebagai hadiah pernikahan untuk suaminya Muhammad. Setelah beberapa tahun, Muhammad membebaskan Zaid dan mengadopsi dia sebagai anaknya.

Zainab, didukung oleh saudara laki-lakinya Abdullah untuk menikah dengan Zaid. Pada awalnya Zainab menolak lamaran tersebut dengan alasan, “Saya adalah janda orang Quraisy.” Orang-orang menganggap bahwa status sosial Zainab terlalu tinggi untuk memungkinkannya menikahi mantan budak.

READ:  Kisah Hidup Ummu Habibah binti Abu Sufyan

Kemudian perbedaan sosial inilah yang menjadi alasan mengapa Muhammad ingin mengatur pernikahan.

Muhamad mengemukakan pendapatnya bahwa ia ingin menetapkan hukum legitimasi dan hak atas perlakuan yang sama terhadap anak yang diadopsi.

Zainab kemudian menyetujui dan menikah dengan Zayd. Muhammad secara pribadi membayar mahar 160 dirham dengan uang tunai, jubah dan kerudung, mantel baju besi, 50 mud gandum dan 10 mud kurma.

Namun ternyata pernikahan Zainab dan Zaid hanya berlangsung kurang dari dua tahun dan Nabi kemudian berniat menikahi Zainab. Awalnya Nabi Muhammad digambarkan enggan untuk melanjutkan pernikahan karena khawatir, apakah menikahi mantan istri anak angkat ini melanggar aturan pernikahan.

Adapun adat dalam suku Arab menyatakan bahwa hubungan kekerabatan yang diakui tidak berdasarkan pada hubungan darah. Artinya, mengasuh atau mengadopsi juga suatu hubungan persaudaraan yang diakui.

Pertanyaan apakah diperbolehkan menikah dengan mantan dari anak yang diadopsi ini tidak jelas di antara umat Islam. Pernikahan antara Nabi dan Zainab tidak dilakukan sampai ayat Alquran turun dan Nabi menerima wahyu. Ayat tersebut memberikan izin bagi orang beriman untuk menikahi istri yang bercerai dari anak angkat mereka.

Pernikahan Zainab dengan Nabi Muhammad

Ketika memiliki niat untuk menikahi Zainab, Nabi mengharapkan kritik dari orang-orang. Kebiasaan dari masyarakat Badui Arab adalah tidak menyetujui pernikahan antara seorang pria dan mantan istri putranya.

Masyarakat Arab akan memandang pernikahan ini sebagai sesuatu yang sangat salah; karena mereka menganggap anak angkat benar-benar “anak laki-laki”. Bagi seorang laki-laki yang menikahi istri anak angkatnya – bahkan jika dia bercerai – dianggap inses.

Oleh karena itu, Nabi menyembunyikan niatnya untuk menikahi Zainab sampai ayat alquran turun.  Konflik internal ini disebutkan dalam Al-Qur’an Al Ahzab ayat 37:

Setelah ayat ini diumumkan, Muhammad menolak norma-norma Arab yang ada. Setelah itu, status hukum adopsi tidak diakui dalam Islam. Zaid kembali dikenal dengan nama aslinya “Zaid ibn Haritshah” bukan “Zaid ibn Muhammad”.

READ:  5 Hal Luar Biasa Tentang Khadijah, Istri Rasulullah

Namun banyak orang yang berpendapat bahwa ayat dalam surat ini adalah contoh wahyu yang mementingkan diri sendiri, mencerminkan keinginan Nabi daripada kehendak Tuhan. Beberapa sejarawan Muslim telah memahami perbedaan antara pemikiran pribadi Muhammad dan ucapannya yang merujuk, bukan pada keinginan untuk menikahi Zainab, tetapi hanya pada ramalan kenabian bahwa pernikahan itu akan terjadi.

Muhammad menikahi Zainab segera setelah masa iidah dari perceraiannya dengan Zaid selesai, pada tanggal 27 Maret 627. Muhammad memberi Zainab mahar 400 dirham. Kemudian dia mengadakan pesta pernikahan untuknya dan menyembelih sekor domba.

Kehidupan Zainab Bersama Nabi dan Istri-istrinya

Aisyah (Kisah Hidup Aisyah binti Abu Bakar) percaya bahwa istri kesayangan Muhammad, setelah dirinya, adalah Zainab dan Ummu Salama. Asiyah berkata: “Zainab adalah tandinganku dalam kecantikan dan cinta Nabi untuknya.”

Ummu Salamah (Ummu Salamah binti Abu Umayyah) berkata tentang Zainab: “Rasulullah menyukai dia dan aku juga pernah kesal dengannya.”

Beberapa sejarah mengatakan bahwa ada konflik antara Zainab dan istri-istri Nabi (Istri Nabi Muhammad SAW). Zainab biasa membual kepada istri-istri Nabi: “Kamu dinikahkan oleh keluargamu, sementara aku dinikahkan (dengan Nabi) oleh Allah.”

Aisyah menceritakan bahwa para istri dibagi menjadi dua kelompok, satu dipimpin oleh dirinya sendiri dan yang lainnya oleh Ummu Salamah. Zainab bersekutu dengan Ummu Salamah, bersama dengan Ummu Habiba, Juwayriyyah (Juwairiyyah binti al-Haaritsh) dan Maimunah.

Dalam satu pertengkaran, Zainab meneriakkan hinaan pada Aisyah saat Muhammad hadir. Aisyah membalas dengan kata-kata panas sampai membuat Zainab diam. Di lain waktu,  pernah Zainab menolak meminjamkan unta cadangannya kepada Safiyyah. Muhammad sangat marah dan Nabi tidak berbicara dengan Zainab selama lebih dari dua bulan.

READ:  Juwairiyyah binti al-Haaritsh

Pada dua kesempatan, ketika Muhammad membagi hadiah makanan di antara semua istrinya, Zainab merasa tidak senang dengan porsinya dan mengirimkan porsi makan itu kembali kepada Nabi.

Namun, Zainab adalah orang yang membela Aisyah ketika Aisyah dituduh melakukan perzinahan. Muhammad bertanya padanya apakah dia tahu sesuatu tentang kabar itu, dan Zainab menjawab: “Wahai Rasulullah! Saya menahan diri untuk mengaku mendengar atau melihat apa yang belum saya dengar atau lihat. Demi Allah, saya tidak tahu apa-apa kecuali kebaikan tentang Aisyah.”

Aisyah mengakui: “Saya belum pernah melihat seorang wanita yang lebih salehah dalam agama selain Zainab, lebih sadar akan Tuhan, lebih jujur, lebih hidup pada ikatan darah, lebih murah hati dan memiliki lebih banyak rasa pengorbanan diri dan memiliki lebih banyak amal yang membuatnya lebih dekat dengan Tuhan, Yang Mulia, daripada dia. ”

Setelah kematian Muhammad, Zainab tidak pernah meninggalkan Madinah lagi. Dia adalah seorang janda selama sembilan tahun, selama waktu itu dia meriwayatkan sebelas hadits.

Zainab terus bekerja di penyamakan dan kerajinan kulit, dan dia membagikan semua keuntungannya untuk amal. Bahkan ketika Khalifah Umar (Umar bin Khattab Khalifah Pengganti Nabi Muhammad ) mengiriminya uang pensiun sebesar 12.000 dirham diberikan kepada semua janda Muhammad, Zainab justru memberikan semuanya kepada keluarga miskin di Madinah.

Saat kematian Zainab, ahli warisnya tidak menemukan satu koin pun di rumahnya. Zainab wafat pada masa kekhalifahan Umar pada musim panas 641. Ia adalah janda pertama Muhammad yang meninggal setelah Nabi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *