Hafsah binti Umar ibn Al-Khattab

Hafsah binti Umar ibn Al-Khattab, Penghafal dan Pelindung Pesan Ilahi

Hafsah binti ‘Umar, salah satu istri Nabi yang dikenal karena hafalan dan pelestarian Al-Qur’an setelah kematian Nabi Muhammad. Hafsah adalah putri dari ‘Umar ibn al-Khattab, teman dekat keluarga Nabi dan khalifah kedua setelah Nabi wafat. Setelah menjadi janda Kuhnays ibn Hudhafah yang mati syahid dalam Pertempuran Badar, Hafsha menikah dengan Nabi Muhammad pada tahun 625 di usia 19 tahun.

Nabi menikahi Hafsa karena merasa wajib mematuhi permintaan ayahnya, ‘Umar. Pernikahan Hafsah dan Nabi membantu meningkatkan status Muslim di Mekah melawan musuh-musuh mereka. Berikut adalah kisah hidup dari Hafsah binti Umar.

Profil Hafsah binti Abu Bakar

Hafsah adalah putri Umar ibn al-Khattabra dan Hazrat Zainab binti Maz’unra. Dilahirkan beberapa tahun sebelum wahyu pertama dari Tuhan atau pada tahun 604 di Mekkah, Arab Saudi.  dia dibesarkan dalam sebuah keluarga yang terkenal karena pembelajaran dan pendidikannya. Seperti ayahnya, dia memiliki rasa ingin tahu, cerdas, dan pemberani yang sesuai dengan namanya.

Hafsah adalah putri Umar (Umar bin Khattab Khalifah Pengganti Nabi Muhammad), khalifah Islam kedua. Umar mendapat gelar “Faruq”, artinya orang yang membedakan antara benar dan salah. Tentang Umar, Nabi Muhammad berkata:

“Jika ada nabi setelah aku, itu adalah Umar.” (Tirmidzi, Vol. 1, buku 46)

Putranya dan saudara laki-laki Hafsah, Abdullah bin Umar juga merupakan sahabat dekat Nabi Muhammad. Salim meriwayatkan atas otoritas ayahnya dalam sebuah hadits di mana Hafsah menghubungkan mimpi salah satu saudara laki-lakinya dengan Nabi. Nabi Muhammad kemudian berkomentar:

“Abdullah adalah orang baik. [Saya berharap dia] lebih sering menjalankan Tahajud. ”

Mendengar hal ini, Abdullah menjadi lebih taat pada shalat Tahajud. (Sahih al-Bukhari)

Peristiwa yang disebutkan di atas menunjukkan suasana di mana Hafsah dibesarkan. Sebagai seorang Muslim yang taat, ia tumbuh di tengah-tengah Sahabat Nabi (Kisah Para Sahabat Nabi) dan mewujudkan karakteristik cerdas, kuat dan salehah.

READ:  Ummu Salamah binti Abu Umayyah

Hafsah sering menjalankan puasa dan tetap terjaga sepanjang malamnya untuk tahajud. Oleh karena itu, tidak banyak pertanyaan mengapa Hafsah akhirnya dipilih sebagai Salah Satu Istri Nabi Islam (Istri Nabi Muhammad SAW)  di kehidupan ini dan akhirat. Malaikat Jibril membuktikan sifat-sifat Hafsah di hadapan suaminya:

“Dia sering berpuasa dan sering berdoa di malam hari; dia akan menjadi istrimu di surga ”(Mustadrak al-Hakim)

Pernikahan Hafsah dengan Nabi Muhammad

Hafsah pertama kali menikah dengan  Khunais bin Huzaifara yang, karena kekejaman Quraisy, keduanya hijrah ke Abyssinia dan Madinah untuk mencari keridhaan Tuhan. Pada Pertempuran Badar, Khunais bin Huzaifara terluka parah dan kemudian meninggal karena luka-lukanya.

Kisah pernikahannya dengan Nabi Suci agak lucu, sebagaimana diceritakan oleh Umar bin Khattab sebagai berikut:

“Ketika Hafsa binti Umar kehilangan suaminya, , Khunais bin Huzaifa al-Sahmi, yang berperang di Badar dan kemudian meninggal di Madinah, saya bertemu dengan Utsman bin Affan (Biografi Utsman bin Affan Sahabat Nabi) dan menyarankan agar ia menikahi Hafsa, kemudian Usman menjawab, ‘Saya akan memikirkannya.’ Saya menunggu beberapa hari dan kemudian Usman berkata kepada saya, ‘Saya berpendapat bahwa saya tidak akan menikah saat ini.’

Kemudian saya bertemu Abu Bakar (Meneladani Kisah Abu Bakar As-Siddiq) dan berkata, ‘Jika Anda ingin, saya bisa menikahkan Hafsa binti Umar dengan Anda. ‘Dia diam dan tidak menanggapi. Saya menjadi gelisah dan itu membuat saya tidak senang lebih dari tanggapan Utsman.

Beberapa hari kemudian, Nabi memintanya untuk dinikahi dan saya menikahkannya dengan Nabi (Kisah Nabi Muhammad SAW). Kemudian, Abu Bakar mendekati saya dan berkata, ‘Mungkin kamu marah kepadaku ketika kamu menawariku Hafsa untuk dinikahi dan aku tidak memberikan jawaban kepadamu?’

READ:  Zainab binti Jahsh

Aku berkata, ‘Ya.’ Abu Bakar menjawab, ‘Tidak ada yang menghalangi saya untuk menerima kecuali bahwa saya mengetahui bahwa Nabi Allah telah merujuk pada masalah Hafsa dan saya tidak ingin mengungkapkan rahasianya, tetapi jika dia (Nabi) tidak menikahinya, saya pasti akan menerimanya. ”(Sahih al- Bukhari)

Hadits lain menceritakan bahwa ketika Umar mengungkapkan kesulitannya menikahkan putrinya kepada Nabi dan dia menerima tanggapan dari kedua sahabatnya tentang penolakan Hafsah, Rasulullah SAW tersenyum dan menghiburnya bahwa Hafsah akan mendapatkan suami yang lebih baik dan Utsman akan menerima istri yang lebih baik.

Hafsah menjadi dekat dengan salah satu istri Nabi lainnya, Aisha, tetapi tidak seperti Aisha yang dikenal suportif dan penyayang, Hafsa dikenal kuat, beropini, dan berpendidikan.

Nabi menghargai kemampuan membaca dan menulis Hafsa yang langka di kalangan wanita saat itu. Sepeninggal Nabi, Hafsa diberi tanggung jawab untuk melestarikan dan melindungi folio Al-Qur’an yang akhirnya dirangkai menjadi satu dokumen.

Hafsah tahu dia diberkati dengan wahyu Tuhan yang perlu dilindungi dari manipulasi oleh tokoh politik seperti Marwan, gubernur Madinah yang mengirim kurir untuk meminta folio tersebut. Dia dengan tegas menolak permintaannya.

Hafsah, Sosok yang Haus akan Pengetahuan

Hafsah belajar membaca dan menulis sejak usia dini dan telah menghafal Alquran dengan sangat baik. Pengetahuannya tentang masalah agama sangat kuat. Setidaknya 60 hadits telah dikutip olehnya. Seperti ayahnya, dia pada dasarnya memiliki rasa ingin tahu dan tidak segan-segan mengajukan pertanyaan untuk memuaskan dahaga akan pengetahuan.

Sahih Muslim menyebutkan sebuah kejadian, suatu hari Nabi Muhammad mengatakan kepada Hafsah, “Dari mereka yang mengambil sumpah Aqabah, tidak ada yang akan masuk neraka.” Hafsah, yang memiliki watak yang ingin tahu, menjawab, “Bagaimana dengan ayat yang menyatakan ‘Tidak ada di antara kamu, tetapi akan datang ke sana.’”

READ:  Kisah Hidup Aisyah binti Abu Bakar

Nabi Muhamamd mengarahkannya ke ayat berikutnya yang menyatakan, ” Tuhan akan menyelamatkan orang benar dan meninggalkan orang yang salah di dalamnya. ”(Sahih Muslim)

Harus dipahami bahwa dia sama sekali tidak bermaksud mempertanyakan otoritas Nabi Muhamamd SAW karena menentang, melainkan analisis Hafsah yang tajam. Pemikirannya yang tajam inilah yang sering memaksanya untuk bertanya dan memahami seluk-beluk perintah Alquran lebih dalam.

Dikenal Sebagai Penjaga Quran

Selama masa hidupnya, Nabi Muhammad biasa mempercayakan kepada  Hafsah benda yang di atasnya tertulis Alquran untuk disimpan. Setelah kematiannya, sejumlah besar Muslim yang telah menghafal Alquran meninggal dalam Pertempuran Yamama. Abu Bakar kemudian memerintahkan Zaidra bin Thabit untuk menyusun Quran menjadi satu bentuk buku. Hafsah juga berkonsultasi dalam masalah ini.

Pada akhir Khilafat kedua, Umar mewariskan salinan kompilasi Alquran kepada putrinya yang tetap bersamanya sampai kematiannya. Banyak salinan alquran dibuat dari salinan versi aslinya di era Usman bin Affan dan didistribusikan ke seluruh dunia Muslim.

Makna Hijrah
Motivasi Hijrah Cinta

Kematian Hafsah binti Umar bin Khattab

Hafsah akhirnya meninggal di bulan Sya’ban, 45 Hijriyyah. Doa pemakamannya dipimpin oleh gubernur Madinah, Marwan bin Al Hakam. Banyak sahabat terkemuka Nabi Muhamamd mengambil bagian dalam pemakamannya, termasuk Abu Hurairara. Dia dimakamkan di Jannatuul-Baqi bersama istri-istri Nabi Muhammad lainnya.

Semoga dari kisahHafsah binti Umar ini, kita bisa meneladani sifatnya yang haus akan ilmu dan tajam dalam menganalisis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *