Juwairiyyah binti al-Haaritsh

Juwairiyyah binti al-Haaritsh

Juwairiyyah binti al-Haaritsh adalah salah satu dari istri-istri Nabi yang terkenal hebat. Aisyah pernah meriwayatkan sebuah hadis yang menceritakan tentang Juwairiyyah binti al-Haaritsh “Kami tidak melihat ada wanita yang lebih hebat dari Juwairiyah, yang membawa berkah bagi bangsanya.” .

Juwairiyyah adalah putri al-Hāritsh ibn Abi Dirar, kepala Bani Mustaliq, yang dikalahkan oleh sukunya dalam sebuah pertempuran. Berikut ini adalah kisah mengenai Juwairiyyah binti al-Haaritsh yang sangat menginspirasi.

Profil Juwairiyyah binti al-Haaritsh

Juwairiyyah binti al-Haaritsh mempunyai nama lahir Barrah dan ia lahir pada tahun 608 Masehi. Ia berasal dari suku Banu Mustaliq. Juwairiyah adalah putri dari kepala suku terkenal Banu Mustaliq, Haris bin Abi Darrar. Dia pertama kali menikah dengan Musafi bin Safwan.

Aisyah menggambarkan Juwairiyah sebagai seseorang yang memiliki pesona dan keindahan dan dia membuat semua orang yang melihatnya terpesona. (Sunan Abi Daud, Hadits 3931)

Haris memendam permusuhan terhadap Muslim dan mulai memprovokasi suku-suku lain untuk berperang melawan muslim di Madinah. Musuh telah merencanakan serangan mendadak ke Madinah namun karena Nabi Muhamad (Kisah Nabi Muhammad SAW)tahu bahwa pasukannya hendak diserang, ia membawa banyak tentara muslim untuk melawan pertempuran yang dipimpin Harits.

Suku-suku yang bersekutu dengan Banu Mustaliq panik dan melarikan diri. Akan tetapi, tipu muslihat kaum Quraisy telah memabukkan Banu Mustaliq sedemikian dalam sehingga mereka menolak untuk meletakkan senjata dan bersiap untuk melawan tentara muslim sendirian. Namun akhinya pertempuran itu berakhir dengan kekalahan Bani Mustaliq. Di antara tawanan perang adalah Juwairiyah, yang diserahkan kepada Sabitra bin Qais.

Pernikahan Juwairiyyah dengan Nabi

Juwairiyah kemudian masuk ke mukatabat dengan  Sabitra bin Qais, sebuah praktik dalam Islam yang memungkinkan kebebasan narapidana dengan membayar uang tebusan kepada penjaga. Karena Juwairiyyah tidak memiliki uang untuk membayar tebusan, maka ia bermaksud meminta bantuan Nabi. Juwairiyyah telah mendengar tentang sifat murah hati dan baik hati dari Nabi Muhamad, maka dia mendekati Nabi untuk meminta bantuannya.

READ:  Safiyah binti Huyayy

Seluruh kisah ini diriwayatkan oleh Aisyah dalam hadits berikut:

Juwairiyah RA berkata:

“Ya Rasulullah, saya adalah putri dari kepala suku Harits bin Abi Darrar. Anda sangat menyadari kemalangan yang menimpa saya. Saya telah membuat kesepakatan dengan tuan saya. Permintaan saya adalah Anda membantu saya untuk bisa menebus sejumlah pembayaran yang diminta. ”

Nabi Muhamad pun tergerak oleh permohonan Juwairiyah dan menyadari bahwa menikah dengannya sama halnya penghapusan permusuhan yang dipendam sukunya terhadap Muslim. Jadi Nabi menjawab, “Apakah engkau tahu keputusan mana yang lebih baik?”

Dia bertanya, “Apa itu, Rasulullah?”

Dia menjawab, “Saya akan membayar harga kebebasan Anda atas nama Anda dan saya akan menikahi Anda.”

Juwairiyyah menjawab, “Saya akan melakukan itu”

Pernikahan antara Juwairiyah dan Nabi kemudian terjadi pada tahun 627. Juwairiyyah menikah dengan Muhammad, ketika Nabi berusia 58 tahun dan dia berusia 20. Setelah mendengar bahwa Juwairiyah telah terikat dalam ikatan pernikahan dengan Utusan Allah, ,uslim membebaskan semua tawanan mereka.

Aisyah meriwayatkan bahwa

“Kami tidak melihat ada wanita yang lebih hebat dari Juwairiya yang membawa berkah bagi bangsanya. Seratus keluarga Banu Mustaliq dibebaskan karena dia. (Sunan Abu Daud, Hadits 3931)

Dalam riwayat lain, Harits ayah Juwairiyyah mendekati Nabi dan memintanya untuk mengembalikannya karena dia adalah putri seorang kepala suku. Nabi pun menjawab bahwa dia bebas untuk pergi, namun jika dia ingin tetap tinggal, maka dia dipersilahkan untuk tinggal.  Namun ternyata Juwairiyyah memilih untuk tetap tinggal bersama Nabi.

Belakangan, diketahui bahwa pernikahan Juwairiyah dengan Nabi ini sudah pernah diramalkan sebelumnya karena pernah terjadi dalam mimpi Juwairiyyah. Juwairiyyah mengenang bahwa sebelum perang, dia melihat mimpi bahwa bulan yang terbang dari Madinah jatuh ke pangkuannya. Dia menceritakan:

READ:  Kisah Hidup Aisyah binti Abu Bakar

“Saya tidak ingin memberi tahu siapa pun tentang mimpi ini. Ketika saya ditangkap, saya berharap mimpi ini bisa terpenuhi. Kemudian, Nabi Muhamad memberi saya kebebasan dan menikahi saya. Saya berusia 20 tahun saat itu. ” (Azwaj Mutahharat wa Sahabiyat hal 206-207)

Sebelum masuk Islam, namanya adalah Barrah. “Barrah” berarti takwa dan Nabi Muhamamd Suci tidak suka jika seseorang bertanya apakah Barrah ada di rumah dan dia harus menjawab bahwa Barrah tidak ada di rumah. Oleh sebab itu dia mengganti namanya menjadi Juwairiyah. (Sahih Muslim, Hadits 2140).

Juwairiyyah, Sosok yang Sangat Salehah

Juwairiyyah adalah istri Nabi (Istri Nabi Muhammad SAW) yang sering berpuasa dan sangat percaya pada ajaran Islam. Dia menghabiskan sebagian besar waktunya untuk berdoa dan beribadah. Sebagaimana disampaikan oleh Abdullah ibn Abbas dalam hadisnya:

“Rasulullah keluar dari rumah Juwairiyah, saat dia sedang salat. Namanya dulu Barrah tapi dia mengganti namanya menjadi Juwairiyah. Ketika Nabi kembali ke rumah, Juwairiyyah masih berada di tempat yang sama, masih beribadah. Nabi kemudian bertanya, ‘Apakah engkau masih berada di tempat yang sama ketika aku pamit meninggalkanmu?’ Juwairiyyah menjawab dengan tegas.

Nabi lalu berkata :

“Aku melafalkan empat kata tiga kali setelah aku meninggalkanmu. Jika ini ingin dibandingkan dengan semua yang telah kamu ucapkan sejak pagi, ini akan menjadi lebih berat. Kata-kata itu adalah:

سُبْحَانَ اللهِ وَ بِحَمْدِهِ عَدَدَ خَلقِهِ وَرِضَا نَفْسِهِ وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَ مِدَادَ كَلِمَات

Subhan-allahi wa bihamdihi, `adada khalqihi, wa rida nafsihi, wa zinatah` arshihi, wa midada kalimatihi

Allah bebas dari ketidaksempurnaan dan saya mulai dengan pujian-Nya, sebanyak jumlah makhluk-Nya, sesuai dengan Keridhaan-Nya, sama dengan berat Singgasana-Nya dan sama dengan tinta yang dapat digunakan untuk mencatat kata-kata ( untuk Puji-Nya). “- Muslim

READ:  Zainab binti Khuzaimah

Juwairiyyah juga mempunyai sifat yang sangat patuh dan kepatuhannya ini patut dicontoh. Diceritakan bahwa pada suatu ketika, tepatnya di hari Jum’at, Nabi Muhamamd mengunjunginya dan sedang berpuasa.

Nabi bertanya padanya, “Apakah kamu puasa kemarin?” Juwairiyyah menjawab, “Tidak.” Nabi berkata, “Apakah kamu berniat untuk berpuasa besok?” Dia menjawab, “Tidak.” Nabi berkata, “Kalau begitu berbuka puasalah.” Juwairiyyahpun segera menurut dan membatalkan puasanya. (Sahih al-Bukhari, Hadits 1986)

Kematian Juwairiyyah binti al-Haaritsh

Juwariyyah digambarkan sangat cantik dan halus. Dia dibesarkan dalam kemewahan, dan memiliki semua kemewahannya seperti seorang putri. Dia juga sosok yang cerdas dan bijaksana, menguasai bahasa dan gaya sastra. Apa yang Juwairiyyah miliki adalah pencapaian yang sangat dihargai oleh orang Arab zaman dahulu.

Semua yang melihat Juwayriya akan terpana oleh kecantikannya yang luar biasa. Dia tidak hanya cantik tetapi juga anggun dan cerdas.

Ketika istri Muhammad ‘Aisyah pertama kali melihatnya, dikatakan jikalau Aisyah (Kisah Hidup Aisyah binti Abu Bakar) berseru bahwa Juwayriyah “secantik bidadari”.

Setelah menikah dengan Nabi, dia sangat salehah dan menghabiskan sebagian besar waktunya dengan asyik berdoa. Juwairiyyah binti al-Haaritsh kemudian meninggal pada usia 65 tahun dan dimakamkan di Janatul Baqi bersama istri Nabi lainnya. Gubernur kota, Marwan memimpin doa pemakamannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *