Kisah Perang Waddan

Kisah Perang Waddan, Pertempuran Pertama Nabi Muhamad

Pertempuran Waddan atau juga dikenal sebagai Perang Al-Abwah adalah ekspedisi militer pertama yang diselenggarakan oleh Nabi Muhamad untuk mengganggu jalur perdagangan antara Makkah dan Suriah. Pertempuran ini dimulai pada tahun 623 Masehi dan berlangsung selama lima belas hari.

Meskipun ekspedisi ini dianggap sebagai sebuah invasi karena tidak ada pertempuran yang benar-benar terjadi, namun sejarah menunjukkan bahwa perang waddan ini adalah perang yang dipimpin langsung oleh Nabi melawan kekufuran Quraisy.

Tanggal Pertempuran Perang Waddan

Pertempuran yang juga dikenal dengan sebutan Al-Abwa ini merupakan pertempuran pertama antara Nabi (Kisah Nabi Muhammad SAW) dengan kaum musyrik yang terjadi pada tahun 2 hijriyyah.  Beberapa orang percaya bahwa pertempuran terjadi di bulan Safar atau Agustus  dan yang lain berpendapat bahwa perang itu terjadi setelah 12 bulan Nabi tinggal di Madinah yang berarti sekitar bulan Rabiiul Awal atau  September.

Lokasi Pertempuran Perang Waddan

Lokasi pertempuran Nabi melawan kaum musyrik Quraisy sendiri terjadi di Waddan sehingga perang ini dimakan Waddan. Waddan sendiri terletak antara Mekah dan Madinah dekat Rabigh. Lokasi perang ini kira-kira sekitar 29 mil dari Madinah. Al-Abwaa dan Waddaan dipisahkan kira-kira 6 delapan mil oleh sebidang tanah.

Pasukan Perang Nabi

Nabi Muhammad memimpin pasukan dengan Hamzah ibn Abdul Muthalib (Hamzah bin Abdul Muthalib, Sang Singa yang Kuat) membawa bendera putih. Nabi Muhamad lalu menunjuk Sa’d bin Ubada (Kisah Para Sahabat Nabi) sebagai penggantinya di Madinah kemudian meninggalkan kota itu bersama 60 orang dari kaum muhajirui. Tidak ada orang dari Ansar yang menghadiri pertempuran tersebut. Bendera tentara Islam dalam pertempuran ini dipegang oleh Hamzah bin Abd al-Muttalib.

Ketika Nabi  tiba di al-Abwa ‘, tidak ada orang Quraisy di sana. Namun, Bani Damra telah tiba di daerah itu untuk membuat perjanjian damai dengan Nabi. Mukhashshi bin ‘Amr al-Damri kepala suku pada saat itu, menandatangani perjanjian damai dengan Muslim.

READ:  Hafsah binti Umar ibn Al-Khattab, Penghafal dan Pelindung Pesan Ilahi

Kaum muslimin, kebanyakan muhajirinn, dengan jumlah mulai dari 70 sampai 200 turut mengikuti perang ini. Beberapa pasukan  berkuda dan beberapa berjalan mencoba mencegat kafilah Quraisy. Sementara Said bin Ubadah tetap di Madinah untuk mengurus urusan Nabi selama pergi.

Pemicu Perang Waddan

Dengan maksud untuk melaksanakan dakwah Nabi agar berjalan dengan lancar sebagaimana mestinya, maka kaum Muslimin memulai kegiatan untuk menunaikan perang yang sebenarnya untuk melawan kemusyrikan.

Pada awal sebelum peperangan dimulai, kaum muslim hanya melakukan patroli dan pengintaian untuk mengeksplorasi fitur geopolitik jalan-jalan di sekitar Madinah dan jalan-jalan lain menuju Mekah, dan membangun aliansi dengan suku-suku di sekitarnya.

Nabi Muhamad sangat ingin memberi kesan kepada kaum musyrik dan Yahudi Madinah serta kaum Badui di sekitarnya, bahwa kaum Muslim telah menghancurkan ketakutan lama mereka, dan terlalu kuat untuk diserang tanpa hukuman.

Nabi juga ingin menunjukkan kekuatan para pengikutnya untuk mencegah Quraisy melakukan kebodohan dan kekerasan apa pun terhadapnya dan kaum muslim yang dapat membahayakan kehidupan ekonomi dan sarana hidup kaumnya.

Peperangan ini juga berupaya untuk menghentikan kaum Quraisy berhenti menganiaya kaum muslim yang tidak berdaya dan ditahan di Mekah. Nabi tidak hanya ingin membantu kaum-kaum yang tidak berdaya, namun juga melanjutkan misi dakwahnya, menyebarkan ajarkan agama Islam kepada semua umat dengan bebas.

Awal dari pertempuran dimulai dari Saif Al-Bahr yang dikirim pada bulan Ramadhan 1 Hijriyyah atau tahun 623. Dipimpin oleh Hamzah bin ‘Abdul Muthalib dan terdiri dari 30 muhajirin, pasukan muslim mencegat kafilah Quraisy.

Kafilah Quraisy teridiri dari 300 orang termasuk Abu Jahal bin Hisham. Kedua pihak bertemu satu sama lain dan bersatu dalam persiapan untuk pertempuran.

READ:  Mengenal Sosok Mariah Al Qibtiyyah

Namun saat itu, Majdi bin ‘Amr, berhubungan baik dengan kedua belah pihak, kebetulan ada di sana dan berhasil mencegah bentrokan yang akan terjadi. Pada kesempatan itu, Nabi Muhamad mengibarkan bendera pertama dalam sejarah umat Islam. Warnanya putih dan dipercayakan kepada Kinaz bin Husain Al-Ghanawi, untuk dibawa.

Kemudian pada bulan Syawal, 1 H, yaitu April 623 M. Rasulullah mengirim ‘Ubaidah bin Al-Harits bin Al-Muttalib dengan depan 60 penunggang kuda dan para kaum muhajirin ke suatu tempat yang disebut Batin Rabigh.

Di situlah mereka bertemu dengan Abu Sufyan, pemimpin 200 orang dari kaum Quraisy. Ada tembakan panah yang terjadi antara kaum muslim dan kafir Quraisy, tetapi tidak ada pertempuran yang sebenarnya.

Menarik untuk dicatat bahwa ada dua umat muslim, Al-Miqdad bin ‘Amr Al-Bahrani dan’ Utbah bin Ghazwan Al-Mazini yang membelot dari kafilah Quraisy dan bergabung dengan barisan ‘Ubaidah. Umat ​​Islam memiliki bendera putih yang dibawa oleh Mistah bin Athatha bin Al-Muttalib bin ‘Abd Munaf.

Kemudian pada bulan Dzulqa’dah yaitu Mei 623, Nabi Muhamad mengirim Sa’d bin Abi Waqqas (Sa’ad bin Abi Waqqas Sahabat Rassullah) sebagai pemimpin dari 20 penunggang kuda, dan memerintahkan mereka untuk tidak melampaui tempat bernama Al-Kharrar.

Setelah berjalan selama 5 hari, mereka tiba di tempat itu, pasukan muslim menemukan bahwa unta-unta Quraisy telah pergi sehari sebelumnya dan mereka tidak jadi bertempur melawan kaum Quraisy.

Kemudian, terjadilah perang Ghazwa Al-Abwa ‘atau Waddan. Saat itu pada bukan Safar 2 Hijriyyah, yaitu 623 M, Rasulullah memimpin dirinya di depan 70 orang, sebagian besar muhajirin untuk mencegat kafilah unta milik Quraisy.

Nabi memerintahkan Sa’d bin ‘Ubadah untuk membantu urusan di Madinah. Ketika Nabi sampai di Waddan, tempat antara Mekah dan Madinah, Nabi tidak menemukan kaum Quraisy namun bertemu dengan Bani Dhamrah dari Suku Kinanah.

READ:  Sejarah dan Biografi Ali bin Abi Thalib

Sebuah kesempatan bagus menurut Nabi untuk bertemu dengan Bani Dhamrah, sekutu kaum Quraisy untuk menjalin kerja sama dan menghentikan permusuhan antara kedua sukunya. Akhirnya, pertempuran yang disiapkan tidak terjadi dan menghasilkan sebuah perjanjian antara Nabi dan Bani Dhamrah.

Hasil Perang Waddan

Sebuah pakta non-agresi ditandatangani oleh Amr bin Makhshi Ad-Damri  yang mewakili masyarakat Banu Damrah sehingga tidak terjadi perang sebagaimana yang ditakutkan.

Dalam perjanjian damai disepakati bahwa:

  1. Mereka seharusnya tidak mengumpulkan pasukan melawan satu sama lain.
  2. Mereka seharusnya tidak saling membantu musuh.

Berikut adalah detail tentang perjanjian yang mencakup ketentuan berikut:

“Ini adalah dokumen dari Muhammad, Rasulullah SAW tentang Bani Damrah di mana Nabi menetapkan bahwa mereka aman dan terjamin dalam kekayaan dan kehidupan mereka. Mereka dapat mengharapkan dukungan dari umat Islam kecuali jika mereka menentang agama Allah. Mereka juga diharapkan untuk merespon secara positif seandainya Nabi meminta bantuan Bani Damrah”

Akhirnya, setelah 15 malam dari perjalanannya, Nabi Muhamadpun kembali ke Madinah. Hingga kemudian, Nabi Muhamad kembali lagi untuk siap berperang melawan Quraisy. Perang itu terjadi pada Rabiul Al-Awwal tahun 2 H, yaitu 623 M.

Nabi Muhamad memimpin 200 pasukan dan mengajak semuanya untuk berbaris ke Buwat dan mencegat kafilah milik Quraisy. Namun ketika Nabi dan pasukan sampai di Buwat, kafilah itu telah pergi. Seperti itulah kisah dari perang waddan yang akhirnya hanya menghasilkan perjanjian perdamaian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *