Maimunah Binti Al-Harits

Maimunah binti al-Harits

Setelah Nabi, dapatkah ada teladan yang lebih baik bagi kita daripada para Ibu Orang Beriman yang semuanya dijanjikan surga? Salah satu dari istri nabi Muhamad yang sangat terkenal dengan kesalehahannya adalah Maimunah binti Al-Harits. Maimunah sangat ingin menikah dengan Nabi.

Dia pergi ke saudara perempuannya, Ummu Fadli untuk berbicara dengana tentang apa yang diinginkannya. Ummu Fadli pada gilirannya, berbicara dengan suaminya, al-Abbas. Al-Abbas segera pergi ke Rasulullah, dengan tawaran Maimunah untuk menikah dengannya dan lamaran Maimunahpun diterima. Berikut adalah kisah mengenai istri Nabi, Maimunah binti Al-Harits dan teladan yang bisa dipetik darinya.

Profil Maimunah binti Al-Harits

Nama: Maimunahh binti al-Haris

Ayah: Haris ibn Hazn

Ibu: Hindun bint Auf

Suku: Hilal

Pernikahan dengan Nabi Muhammad: 7 H

Maimunah berasal dari keluarga yang terhormat dan mulia. Ayahnya adalah Haris ibn Hazn dan berasal dari suku Hilal di Mekah. Ibunya, Hindun binti Auf yang disebut oleh sejumlah sejarawan sebagai “ibu mertua paling mulia di dunia”. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa dia adalah ibu mertua dari banyak sahabat Nabi Muhamad.

Sebelum Maimunah, saudara tirinya,  Zainab binti Khuzaimah (Istri Nabi Muhammad SAW) juga dinikahkan dengan Nabi Muhamad. Saudara perempuan dari pihak ibunya juga menikah dengan sahabat Nabi seperti Asma binti Umays (istri Abu Bakar) dan Salma binti Umays (istri Hamzah bin Abdul-Muththalib) (Kisah Para Sahabat Nabi).

Nama aslinya adalah Barrah tetapi Nabi Muhamad mengubahnya namanya menjadi Maimunah, yang berarti “yang diberkati”.

Pernikahan Maimunah dengan Nabi

Peristiwa pernikahan Maimunah dengan Nabi terbilang unik. Nabi Muhamad telah melihat mimpi bahwa dia melakukan tawaf [mengelilingi] di sekitar Kabah. Pada tahun 628 M, Nabi  berangkat bersama ratusan temannya untuk melakukan umrah. Mereka berkemah di luar Mekah di suatu tempat yang disebut Hudaibiyyah.

Namun, kaum Quraisy tidak setuju dan malah menandatangani perjanjian damai yang memiliki beberapa syarat. Ini adalah perjanjian penting untuk menghentikan perang dan menjaga perdamaian di wilayah tersebut.

READ:  Perang Buwath dan Sosok Nabi Muhamad sebagai Jenderal Miilter Terhebat Sepanjang Masa

Salah satu syarat Perjanjian Hudaibiyah menyatakan bahwa Nabi dan para sahabat harus kembali ke Madinah pada tahun itu dan tahun berikutnya, mereka akan diizinkan masuk ke Mekah dan menunaikan ibadah umrah.

Selama perjalanan, Ibnu Abbas mendekati Nabi dan mengatakan kepadanya bahwa saudara perempuan istrinya adalah seorang janda, dan jika Nabi suka, Nabi dapat menikahinya. Perempuan yang dimaksud adalah Maimunah.

Nabi Muhamad menyetujui lamaran itu dan kemudian Nabi menikah dengannya di sebuah tempat bernama Sarif, sepuluh mil dari Mekah, dan pernikahan itu digelar pada bulan Syawal  7 H (Setelah Hijrah)

Maimunah sendiri termasuk dalam keluarga suku yang memusuhi Muslim. Dengan perkawinan ini, Nabi bermaksud meredam ketegangan di antara kaum muslim dan suku yang memusuhinya. Mengenai pernikahannya, Ibnu Abbas meriwayatkan:

“Nabi menikahi Maimunahh… dan dia menunjuk Ibnu Abbas untuk bertanggung jawab atas pernikahannya, dan dia menikahkannya dengan Nabi.” (Sunan al-Nasai, Hadits 3273).

Karakter Maimunah binti Al-Harits

Maimunah binti Al-Harits memiliki indera pengamatan yang tajam dan haus akan pengetahuan. Dia adalah seorang perawi dari banyak hadits dan beberapa dari mereka telah dilaporkan di Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim.

Salah satu hadisnya adalah :

“Saya mendengar Nabi Muhamad berkata, ‘Sholat yang ditawarkan di masjid ini [Masjid al-Nabawi] lebih baik daripada seribu sholat di masjid lain, kecuali Masjid al-Haram.” (Sunan al-Nasai, Hadits 2898)

Maimunah adalah seorang mentor, guru dan pembimbing umat. Dalam beberapa kesempatan dia menjelaskan kepada umatnya tentang seluk-beluk perkataan Nabi Muhamad perihal kebajikan dan ia menyebarkan ilmunya untuk kepentingan orang banyak.

Semua istri-istri Nabi adalah orang-orang yang sangat percaya pada pesan yang dibawa Nabi. Maimunah juga memiliki keyakinan yang kuat kepada Tuhan dan teguh dalam keyakinannya bahwa Yang Mahakuasa tidak akan pernah mengecewakannya.

READ:  Saudah binti Zam'ah

Diriwayatkan dari Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah bahwa Hazrat Maimunahhra mengambil pinjaman dan dikatakan kepadanya:

“Wahai Ibu dari orang-orang mu’min, mengapa Anda mengambil pinjaman ketika Anda tidak memiliki sarana untuk melunasinya?” Maimunah menjawab, “Aku mendengar Nabi Allah berkata,” Siapapun yang mengambil pinjaman dengan maksud untuk melunasinya, Allah, Yang Mahakuasa dan Mulia, akan membantu mereka. ” (Sunan al-Nasai, Hadits 4687)

Dikarenakan  tekad dan keyakinan inilah, Maimunah memiliki hak istimewa untuk menjadi bagian dari tujuan yang pernah dilihat Nabi Muhamad.

Muslim Al Maudra menceritakan sebuah kejadian di Tafsir Al Kabir bahwa suatu ketika Nabi Muhamad tertidur di rumah Maimunah. Ketika dia bangun untuk Tahajud dan melakukan wudhu, dia mendengar Maimunah berkata “Saya siap” tiga kali, diikuti dengan kata-kata “bantuan akan diberikan kepadamu” tiga kali.

Ketika Nabi kembali, Maimunah bertanya apakah ada seseorang di sana untuk menemuinya. Dia mengungkapkan kepadanya bahwa saya melihat sekelompok orang dari suku Khaza’a berteriak dan bergegas ke arah saya. Mereka mengatakan bahwa mereka telah membuat perjanjian dengan para Nabi dan nenek moyangnya sebelum dia dan selalu mematuhinya.

Akan tetapi, kaum Quraisy telah melanggar perjanjian tersebut dan menyerang mereka sementara beberapa dari mereka dalam kondisi sujud. Mereka datang untuk meminta bantuan. Sang Nabi menambahkan bahwa ketika Nabi melihat kafilah mereka, dia mengatakan kepada mereka bahwa Nabi siap membantu mereka. Dia kemudian meyakinkan mereka bahwa bantuan akan diberikan kepada mereka. (Tafsi-Kabir, Vol. 7, hlm. 113-114)

Meskipun Maimunah tidak secara langsung terlibat dalam peristiwa itu, dia mendengar Nabi  memanggil kata-kata “Siap” dan dalam pengertian ini, Maimunah mengambil bagian dalam insiden yang disebutkan di atas.

Ya, Maimunah adalah seorang wanita yang berpengetahuan luas. Suatu ketika Ibnu Abbas yang juga merupakan salah satu muslim paling berpengetahuan dalam masalah agama mengunjunginya sekali dengan rambutnya tidak disisir, jadi Maimunah bertanya mengapa dia tidak menyisir rambutnya? Katanya istrinya sedang haid.

READ:  Mengenal Sosok Mariah Al Qibtiyyah

Maimunah mengatakan kepadanya bahwa Nabi tetap akan memasuki rumah istrinya yang sedang menstruasi dan mau bersandar pada istrinya atau duduk di pangkuan sang istri sambil membaca ayat-ayat dari Alquran.

Maimunah mengatakan demikian karena ia pernah tahu bahwa Ibnu Abbas tidak akan tidur di ranjang yang sama di samping istrinya ketika sang istri sedang menstruasi. Sehingga Maimunah mengatakan kepada Ibnu Abbas, bahwa apa yang dilakukannya salah karena Nabi sendiri tidak menghindari istrinya yang sedang menstruasi.

Wafatnya Maimunah Binti Al-Harits

Ketika Nabi Muhamad jatuh sakit sebelum kematiannya, Nabi menyadari bahwa waktunya semakin dekat. Karenanya, Nabi meminta untuk dibawa ke sebuah tempat bernama Sarif, tempat ia pertama kali bertemu dengan Maimunah untuk dinikahi. Di situlah Nabi akhirnya meninggal.

Maimuna tinggal bersama Nabi selama lebih dari tiga tahun, sampai kematiannya. Maimunah meninggal pada tanggal 51 H. Ia adalah sosok istri yang jelas sangat baik hati dan mudah bergaul dengan semua ora. ng, dan tidak ada pertengkaran atau perselisihan dengan istri Nabi lainnya.

Aisyah, istri Nabi berkata tentang Maimunah, “Di antara kita, dia paling takut kepada Allah dan melakukan yang paling banyak untuk menjaga hubungan persaudaraan. Dari pahala itulah Rasulullah bersaksi bahwa Maimunah dan saudara perempuannya Ummu Alfadli, Salma dan Asmaa adalah saudara seiman “.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *