Mariah Al Qibtiyyah

Mengenal Sosok Mariah Al Qibtiyyah

Mariah Qibityya adalah salah satu dari istri Nabi Muhamamd yang lahir dari seorang ibu berkebangsaan Romawi di desa Hafan di wilayah Ansnay Mesir. Mariah awalnya bergama Kristen Koptik dan ia dikirim ke Nabi Muhammad oleh Patriark Alexandria. Mariah  menghabiskan sisa hidupnya di Madinah dan kemudian memeluk Islam dan tinggal bersama Nabi.

Mariah akhirnya melahirkan seorang putra untuk Nabi namun akhirnya putra tersebut meninggal. Meskipun secara umum Mariah terkenal dalam tradisi Islam sebagai selir Nabi dan bukan seorang istri, dalam pandangan baru-baru ini, status Mariah telah dinaikkan  menjadi istri Nabi oleh ulama zaman modern tertentu. Berikut adalah kisah hidup mengenai Mariah Al Qibtiyyah.

Awal Pertemuan Mariah dengan Nabi Muhammad

Di tahun keenam hijrahnya Sang Nabi, ia mengirim seorang duta besar ke luar negeri dan dalam surat-suratnya, ia mengundang penguasa negara-negara itu untuk memeluk agama Islam. Rasulullah juga mengirim Hatib ibn Abi Balteh ke Maquq, penguasa Mesir, dan mengundangnya untuk masuk Islam.

Surat yang dituliskan Nabi Saw berbunyi: “Dengan Nama Allah, dari Muhammad bin Abdullah kepada Muqawqis, pemimpin Mesir, salam untuk kita semua. Dengan ini saya mengundang Anda untuk mau menerima agama Islam. Jika Anda melakukannya , Allah akan membalas Anda dua kali lipat, jika tidak, Anda akan menanggung dosa semua umat Qibti. ”

Ketika Muqawqis, pimpinan Mesir membaca surat itu. Dia kemudian meletakkannya dalam sebuah wadah dan meminta Hatib ibn Abi Balteh untuk berbicara tentang Nabi, mulai dari gaya hidup serta karakternya.

Hatib ibn Abi Balteh kemudian menceritakan semuanya. Para pemimpin kemudian berpikir sedikit dan kemudian berkata: “Saya pikir nabi terakhir, akan datang dari Syam, dia akan segera nabi muncul, sementara saya melihat Nabi hadir dari jazirah Arab, jadi kami bangsa Qibti tidak akan mematuhinya.”

READ:  Zainab binti Khuzaimah

Kemudian, Muqawqis, memerintahkan sekretarisnya untuk menyiapkan surat sesuai keinginannya:

“Aku telah membaca suratmu dan apa yang tertulis di dalamnya, dan aku memahaminya dan mendengar ajakanmu. Tetapi aku percaya bahwa nabi terakhir berasal dari Syam. Saya akan menghormati utusan Anda dan akan mengirim Anda dua wanita budak dari tanah besar Qibti dengan pakaian dan kuda. Salam”.

Muqawqis menyampaikan balasan untuk Hatib dan menyampaikan permintaan maaf atas penolakan bangsa Qibti atas ajakan masuk Islam dan meminta Hatib untuk menutupi apa yang telah dilihat dan didengarnya.

Hatib lalu kembali ke  Nabi sambil membawa dua wanita muda bernama Mariah dan Syrin bersama-sama dengan ribuan ons emas, 20 baju Mesir, keledai abu-abu, beberapa madu dan parfum.

Gadis-gadis muda, Mariah dan Syrin tertekan karena meninggalkan tanah air mereka. Oleh karena Hatib kemudian meriwayatkan cerita tentang Mekah dan Hijaz. Hatib membacakan beberapa poin dari ajaran Islam dan sosok Nabi Muhammad.

Mendengar bagaimana sosok Nabi dan kebaikan Islam, Mariah dan Syrin merasa senang dengan Islam dan Nabi Muhammad SAW (Kisah Nabi Muhammad SAW) . Kemudian, mereka masuk Islam dan merenungkan tentang kehidupan baru yang akan keduanya hadapi. Mereka akhirnya tiba di Madinah pada tahun ketujuh Hijrah, kemudian Nabi baru saja kembali dari Hudaibiyah.

Nabi Muhammadpun menerima surat dan hadiah yang dikirim oleh para pimpinan Mesir. Nabi kemudian menikah dengan Mariah dan Syrin. Namun Mariah kemudian diberikan kepada Hasan bin Tsabit yang merupakan penyair dan intelektual terkenal. Nabi juga mengambil Syrin sebagai istrinya. Kemudian Syrin dan Hasan melahirkan seorang putra bernama Abdul Rahman bin Tsabit. Nabi lalu membagikan hadiah di antara para sahabat atas lahirnya putra Hasan bin Tsabit.

Kelahiran Ibrahim Putra Nabi bersama Mariah

Setelah satu tahun tinggal di rumah Hasan bin Tsabit, Mariah meminta pindah ke tempat lain bersama Rasulullah SAW. Keduanya kemudian tinggal di bagian atas Madinah, di sebuah rumah dengan kebun kecil.

READ:  Hafsah binti Umar ibn Al-Khattab, Penghafal dan Pelindung Pesan Ilahi

Mariah sendiri sangat puas dengan kehidupannya yang baru bersama Nabi jika dibandingkan dengan kehidupan masa lalunya. Nabi Muhamad juga sangat bersyukur dengan Mariah  karena dia melakukan yang terbaik untuk menyenangkan nabi. Mariah sangat tulus, berbudi luhur dan sepenuhnya patuh pada perintah nabi, karena Nabi adalah suami dan walinya di Madinah.

Mariah tinggal di rumah Madinah, pada musim panas dan saat musim panen kurma tiba, maka Nabi Muhammadpun  biasa pergi ke sana untuk mengunjungi Mariah. Beberapa waktu setelah Mariah tinggal bersama Nabi, lahirlah putra Nabi dari rahim Mariah yang dinamakan Ibrahim.

Ali bin Abi Thalib (Sejarah dan Biografi Ali bin Abi Thalib)dan Fatimah Az-Zahra (a.s) memberikan perhatian khusus kepada Mariah. Diceritakan ketika Ibrahim lahir, Ali menjadi sangat bahagia. Dia selalu mendukung Mariah, dan Ali sendiri yang menangani masalahnya.

Kelahiran Ibrahim ini mengingatkan Mariah bahwa ia sangat terpesona dengan kisah Siti Hajar yang melahirkan Ismail dari Nabi Ibrahim. Mariah memikirkan kemiripannya dengan Siti Hajar yang mana keduanya sama-sama seorang budak wanita. Siti Hajar diberikan kepada Nabi Ibrahim oleh Sareh dan Mariah diberikan kepada Nabi Muhamamd oleh Muqawqis.

Satu-satunya perbedaan adalah bahwa Siti Hajar melahirkan seorang putra yang dinamakan Ismail dan Mariah tidak memiliki anak dari  Nabi.

Setelah kematian Khadijah (Khadijah Istri Rasulullah) , Nabi tidak memiliki anak dari istri-istrinya, hanya Khadijah yang memiliki enam anak.

Hingga kemudian, pada suatu malam dalam delapan tahun hijrahnya ke Madinah, Mariah hamil. Kabar itu sampai kepada Nabi dan menjadi sangat bahagia dan bersyukur kepada Allah.

Ibrahim lahir di bulan Dzulhijjah. Bidan yang membantu kelahiran Ibrahim, Salamah, memberi kabar kepada suaminya, Abu Rafi, kemudian Abu Rafi mendatangi Nabi dan menyampaikan kabar tentang bayi yang baru lahir.

READ:  Maimunah binti al-Harits

Nabi sangat bahagia mendengar kabar ini dan dinamakanlah bayi Ibrahim, yang diambil dari nama kakek buyut Nabi, Ibrahim Khalilullah. Pada hari ketujuh kelahiran, seekor dombapun disembelih (aqiqah) untuk Ibrahim. Rambut bayi dicukur dan jumlah beratnya menjadi tolak ukur Nabi untuk membagikan perak untuk dibagikan orang miskin di jalan Allah.

Ibrahim sangat disayang oleh Nabi. Anas Ibnu Malik mengatakan:

“Ketika Ibrahim lahir, Malaikat Jibril datang ke nabi memberi hormat dengan cara ‘Assalamualikk ya Aba Abraham’ (salam saya untuk Anda Ayah Ibrahim’)

Perempuan ansar yang mengetahui bahwa Nabi dikaruniai anak dari Mariah berlomba-lomba untuk menyusui Ibrahim. Nabi Muhammad sangat senang menyaksikan Ibrahim tumbuh. Suatu ketika Nabi keluar untuk melakukan sesuatu. Dalam perjalanannya itu, Nabi diberitahu tentang keadaan anaknya yang sakit keras dan wafat. Dengan hati hancur, Nabi akhirnya kembali ke rumah. Nabi kehilangan semua anak-anaknya dan hanya tersisa Fatimah.

Karakteristik Moral Mariah Al-Qibtiyyah

Mariah adalah seorang wanita yang berbudi luhur, salehah, penuh kebaikan, dan patuh. Mariah sangat dipuja oleh Nabi Muhamamd karena dia sangat salehah. Nabi mengungkapkan cintanya pada Mariah Al-Qibtiyyah sebagai berikut:

“Saat kau menaklukkan Mesir, perlakukan mereka dengan baik, karena aku menantu mereka.”

Mariah Aahirnya ia wafat pada masa khalifah kedua di tahun Muharram tepatnya tanggal 16. Umar bin Khattab memanggil orang-orang untuk pemakamannya dan berdoa untuknya. Mariah Al-Qibtiyyah dimakamkan di Jannatul Baqi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *