Perang Buwath

Perang Buwath dan Sosok Nabi Muhamad sebagai Jenderal Miilter Terhebat Sepanjang Masa

Gagasan tentang Nabi Muhammad sebagai seorang militer menjadi hal yang baru bagi banyak orang. Padahal, Nabi adalah seorang jenderal yang hebat dan berhasil mengalahkan musuh-musuhnya sehingga Islam bisa tersebar dan dikenal hingga sekarang. Dalam kurun waktu satu dekade Nabi bertempur dalam 8 pertempuran besar, Nabi memimpin 18 penyerangan, dan merencanakan 30 delapan operasi militer lainnya. Salah satunya adalah perang buwath ini.

Meski Nabi tidak banyak memimpin peperangan, namun Nabi tetap memerintahkan orang lain untuk berada dalam komandonya tetapi beroperasi di bawah perintah dan arahan strategisnya.

Dalam pertempurannya, Nabi pernah terluka 2 kali, dan juga 2 kali mengalami posisinya dikuasai oleh pasukan musuh sebelum dia berhasil membalikkan keadaan pada musuh-musuhnya dan mengumpulkan pasukannya menuju kemenangan. Berikut adalah kisah mengenai gagasan Nabi seorang jenderal yang kuat dan sedikit cerita tentang salah satu perang Buwath yang mengawali operasi militer umat Islam lainnya.

Sejarah Perang Buwath

Perang Buwath bisa dikatakan hanyalah sebuah ekspedisi militer pasukan umat muslim. Ekspedisi Buwath ini diperintahkan langsung oleh Nabi Muhamad dan terjadi sekitar tahun 2 hijriyyah tepatnya di bulan Rabiul Akhir. Ekspedisi ini merupakan serangan pasukan muslim yang kelima dan dipimpin langsung oleh Baginda Nabi.

Serangan ini dinamakan Buwath karena lokasi penyerangan ini dilakukan di Buwath. Jadi, satu bulan setelah gagal melakukan serangan di al-Abwa, maka Nabi membawa 200 pasukan umat Muslim yang terdiri dari Muhajirin dan Anshar.

Nabi (Kisah Nabi Muhammad SAW) membawa pasukannya untuk pergi menuju ke Buwath. Buwath sendiri adalah sebuah jalur strategis yang sering dilewati oleh  para pedagang dari kaum kafir. Setidaknya ada sekitar 1500 unta 100 tentara melewati Buwath. Kafilah Quraisy itu dipimpin oleh Umayyah bin Khalaf.

Alasan Nabi Muhamad melakukan serangan pada kafilah Quraisy adalah ingin menawan rombongan pedagang dan juga mengambil harta mereka. Sayangnya, operasi militer yang terlah direncanakan gagal untuk dieksekusi oleh Nabi dan pasukannya.

READ:  Meneladani Kisah Abu Bakar As-Siddiq

Hal ini dikarenakan rute yang dijelajahi kafilah Quraisy tidak bisa dideteksi oleh Nabi. Akhirnya, ekspedisi militer di Buwath pun gagal. Perang Buwath ini menjadi salah satu ekspedisi militer yang pernah tercatat dalam sejarah karena dipimpin langsung oleh Baginda Rasul.

Sosok Nabi Muhamad, Sang Jenderal Militer Terbaik Sepanjang Masa

Nabi Muhammad adalah seorang jenderal perang yang sangat cerdas. Nabi merupakan pemimpin militer yang membawa konsep baru bagi banyak orang. Nabi adalah seorang pemikir militer kelas satu yang dalam satu dekade mampu memimpin 8 pertempuran, meluncurkan 18 kali serangan dan merencanakan 38 operasi militer terbatas.

Nabi  bukan hanya seorang pemimpin militer yang berpengalaman, tetapi juga seorang ahli teori militer. Nabi merupakan pelopor “perang pemberontakan” dan “perang gerilya” yang sangat hebat dan cerdas.

Nabi menggunakan semua alat yang tersedia untuk mencapai tujuan politiknya dan menggunakan cara militer dan non-militer untuk memastikan tujuannya. Beberapa cara yang digunakan Nabi adalah seperti membangun aliansi, pembunuhan politik, grasi, insentif agama “pembantaian”) dan terkadang mengorbankan tujuan jangka pendek demi jangka panjang.

Nabi juga berhasil merevolusi doktrin militer di Jazirah Arab, karena Nabi percaya, dia adalah seorang utusan Tuhan. Dengan demikian, Nabi mampu menciptakan pasukan Arab yang didasarkan pada keyakinan dengan doktrin ideologis yang terintegrasi, yaitu “Islam”.

Nabi adalah orang pertama yang memperkenalkan dan menggunakan konsep-konsep seperti “perang suci”, “jihad”, dan “kesyahidan” untuk agama. Namun tidak seperti para pemimpin militer pada umumnya, Nabi Muhammad tidak berusaha untuk mengalahkan pasukan musuh-musuhnya, tetapi membentuk pasukan Arab yang bersatu di bawah kepemimpinannya dan menggabungkan semua tentara ini.

Sebuah penelitian dari ahli sejarah menyatakan bahwa Nabi Muhammad memulai pemberontakan militer dengan segelintir orang dengan enggunakan taktik tabrak lari, beberapa orang ini kemudian tumbuh menjadi hampir 10.000 pejuang dalam 1 dekade kemudian ketika Mekah diserang.

READ:  Biografi Utsman bin Affan Sahabat Nabi

Nabi juga menyadari bahwa agar pemberontakan berhasil, dibutuhkan tentara yang kuat dan populasi yang mendukung tentara. Dengan demikian Nabi adalah orang pertama dalam sejarah yang mengadopsi kebijakan “tentara rakyat; perang rakyat ”- jauh sebelum Jenderal Vietnam Vo Nguyen Giap selama Perang Vietnam.

Studi tersebut menambahkan bahwa Nabi berhasil meyakinkan para pengikutnya bahwa Allah mewajibkan semua Muslim untuk mendedikasikan semua sumber daya mereka untuk mengabdi kepada Allah.

Pada akhirnya Nabi berhasil mengkonsolidasikan formasi tempur Arab yang terbagi menjadi infanteri (terdiri dari orang-orang miskin dari desa-desa kecil, dan komunitas di pinggiran kota utama) dan kafilah (terdiri dari anggota suku yang merupakan keturunan pejuang yang sangat terampil). Setiap cabang sangat curiga dan membenci yang lain, tetapi Nabi mampu memberi identitas baru dan perintah militer yang ketat sehingga tidaka ada yang namanya perpecahan dalam satu suara. Hingga akhirnya, Nabi mampu menguatkan Islam dan menyebarkan agama ini.

Di antara semua perang yang pernah diikuti Nabi, dua di antaranya adalah peperangan yang sangat besar dalam sejarah Islam. Perang pertama adalah Badar. Pada bulan Maret 624, Nabi Muhammad memimpin 300  prajurit dalam penyerbuan kafilah pedagang Mekah. Kaum Muslim menyerang kafilah di Badar, tetapi pasukan Mekah mengintervensi dan Pertempuran Badar dimulai.

Meskipun kalah jumlah lebih dari 3 berbanding 1, kaum Muslim memenangkan pertempuran tersebut dan menewaskan sedikitnya 45 orang Mekah. Muhammad dan para pengikutnya melihat kemenangan sebagai balasan Allah atas keyakinan iman mereka, dan Muhammad berkata kemenangan itu dibantu oleh sejumlah malaikat yang tak terlihat.

Setelah perang Badar, ada lagi perang terbesar yang dilakukan oleh umat muslim dan kaum Quraisy, namanya perang Uhud. Pertempuran Uhud adalah perang kedua yang menentukan antara para pemimpin Quraisy, dan tentaranya, melawan Nabi Muhammad bersama pasukan muslim.

READ:  Kisah Hidup Aisyah binti Abu Bakar

Perang ini terjadi 3 tahun setelah hijrah Nabi  ke Madinah dan 1 setelah perang Badar. Perang Uhud memiliki tujuan utama, membunuh Nabi Muhammad  dan menghancurkan Islam. Setelah Pertempuran Badar, dimana kaum Muslim menang mengalahkan tentara Mekah, para pemimpin Mekah sangat marah.

Mereka dipermalukan dan kecewa karena pasukan mereka yang besar kalah dari pasukan yang jauh lebih kecil. Oleh karena itu mereka ingin membalas dendam dan menghancurkan Islam untuk selamanya. Mereka mengumpulkan pasukan yang jauh lebih besar dan bersiap untuk Uhud (sedikit di luar Madinah).

Mirip dengan Pertempuran Badar, tentara Islam kalah jumlah, tapi kali ini 50: 1. Tentara Mekah bertambah besar, terdiri dari 3.000 pasukan dengan 3.000 unta dan 200 penunggang kuda. Tentara Muslim dilengkapi dengan 700 pasukan, 50 pemanah dan 4 penunggang kuda. Abu Sufyan, seorang pemimpin Mekah, memimpin tentara Mekah melawan tentara Islam.

Gunung Uhud (tempat pertempuran) merupakan keuntungan yang sangat strategis secara geografis bagi tentara Islam. Tempat ini memberikan pertahanan struktural bagi Muslim. Nabi telah mengerahkan pasukannya sesuai strategi.

Sayangnya, pasukan muslim kala itu kalah padahal kemenangan sudah ada di depan mata. Kekalahan itu dikarenakan keserakahan pasukan Nabi akan harta rampasan yang akan mereka miliki dan membuat pasukan terlena.

Dari cerita ini menunjukkan bahwa Sang Nabi benar-benar seorang jenderal militer yang sangat cerdas dan hebat dalam merancang strategi perang dan memimpinnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *