Safiyah binti Huyayy

Safiyah binti Huyayy

Safiyahh adalah salah satu istri Nabi yang masih muda setelah Aisyah. Safiyahh menikah dengan Nabi Muhammad pada 7 Hijriyyah, ketika Nabi berusia 60 tahun dan dia berusia 17 tahun. Seperti dalam kasus Juwayriyya binti Haritsh, pernikahan ini terjadi setelah salah satu pertempuran menentukan umat Islam, dalam hal ini, pertempuran Khaybar.

Setelah pertempuran Khaybar di mana kaum Muslimin mengalahkan kaum Yahudi, dua wanita dibawa ke hadapan Nabi Muhammad oleh Bilal bin Rabah, mu’adzin bersuara indah. Bilal mengajak wanita tersebut melewati orang-orang yang terbunuh dalam pertempuran itu.

Salah satu dari dua wanita itu menjerit dan menangisi para suaminya yang meninggal, sementara yang lainnya diam karena shock. Apa yang dilakukan oleh Bilal ini kemudian ditegur oleh Nabi. Ingin tahu kisah Safiyahh binti Huyyay lebih lanjut? Baca kisahnya di bawah ini.

Perang Khaybar dan Pernikahan Safiyahh dengan Nabi Muhammad

Meskipun ada tanda-tanda nyata yang mendukung Nabi Muhamad mengajarkan Islam, orang-orang Yahudi tetap saja memutuskan untuk menentang Nabi Islam dan terus melawannya. Di antara orang-orang Yahudi itu adalah ayah dari Safiyahh, Huyaiyy bin Akhtab. Karena ulah sukunya yang identik dengan perang, Rasul Allah tidak punya pilihan selain menghadapi mereka.

Sebelum perang, Safiyah melihat mimpi bahwa bulan telah jatuh di pangkuannya. Ketika dia menceritakan hal ini kepada ayahnya, dia menegurnya karena ingin menikah dengan raja yang datang untuk mengepung mereka yaitu Nabi Muhamad.

Mirza Bashir Ahmad menceritakan hal ini dengan kata-kata berikut:

“Safiyahh, putri seorang Pimpinan Yahudi dari Khaibar, Huyayy bin Akhtab, melihat mimpi bahwa bulan telah jatuh ke pangkuannya. Ayahnya juga menafsirkan bahwa suatu hari, Safiyahh akan datang ke ikatan pernikahan seorang Penguasa Arab. ” (The Life & Character of the Seal of Prophets, Vol. 1, hlm. 236)

Setelah Bani Nazir dikalahkan, Safiyahhra menjadi tawanan perang. Ketika Nabi Muhamad mengetahui tentang Safiyahh, Nabi menawarkan diri untuk menikahinya. Maksud dari lamaran Nabi ini bermaksud meredakan ketegangan antara orang Yahudi dan Muslim.

READ:  Zainab binti Khuzaimah

Ketika Bani Nazir melihat putri mereka menikah dengan Nabi Muhamad, kemungkinan permusuhan mereka akan memudar dan kedua belah pihak dapat hidup dengan harmonis dan damai.

Sebagaimana kisah Ummu Habiba (Kisah Hidup Ummu Habibah binti Abu Sufyan),Safiyah adalah putri seorang kepala suku. Satu-satunya orang yang bisa menyelamatkannya dari menjadi budak dari status sosialnya yang tinggi adalah dengan menikahi Nabi. Meskipun ayahnya telah merencanakan untuk membunuh Muhammad (setelah perang Uhud, dan telah bersekongkol dengan Bani Qurayza untuk memusnahkan semua Muslim selama pertempuran al-Khandaq, karakteristik Nabi adalah tidak menyimpan dendam apapun.

Bagi mereka yang melakukan kesalahan, Nabi justru merasa kasihan daripada marah, dan bagi mereka yang tidak melakukan kesalahan, Nabi memiliki belas kasih yang lebih besar. Nabi Muhammad kemudian mengundang Safiyah untuk memeluk Islam, yang dia lakukan, dan sebagaimana yang diinginkan Nabi, jika Safiyah mau menikah setelah diberi kebebasan, maka umat muslim dan Yahudi bisa berdamai.

Beberapa orang mungkin bertanya-tanya bagaimana Safiyah bisa menerima Islam dan menikahi Nabi ketika ayahnya menjadi musuh bebuyutannya. Namun ketika pertempuran berdarah terjadi antara orang Yahudi dan Muslim, kebaikan hati Nabi mampu meluluhkan Safiyahh.

Safiyahh, Istri yang Menjadi Teladan yang Hebat

Perkawinannya dengan Nabi Muhamad adalah bukti kebenaran yang dianut Nabi Muhamad. Safiyah kehilangan suami dan ayahnya selama perang dan orang bisa memahami kebencian yang mungkin dia miliki terhadap muslim pada awalnya. Namun, dia sangat terkesan dengan kebaikan dan kasih sayang yang ditunjukkan Nabi Muhamad kepadanya, sehingga atas kemauannya sendiri, dia menyetujui pernikahan itu.

Diceritakan oleh Anas bin Malik:

“Ketika kami melanjutkan perjalanan kembali ke Madinah dari Khaibar dan tiba waktunya bagi Saffiyah untuk menaiki unta, Nabi Muhamad menyiapkan bawaan perang dan melipat jubah yang dia pakai dan meletakkannya agar tempat duduk Safiyahh lebih rapi dan lembut.” (Sahih al-Bukhari)

READ:  5 Hal Luar Biasa Tentang Khadijah, Istri Rasulullah

Pada kesempatan lain, saat kembali dari tempat bernama Asfaan, unta yang ditunggangi Nabi Muhammad tergelincir. Safiyahh juga duduk di sampingnya dan keduanya jatuh. Anas menceritakan:

“Saat kembali dari Asfaan, unta tempat Nabi dan Safiyaha binti Huyayy duduk tergelincir dan mereka jatuh. Abu Thalhah melompat dari untanya dan berkata, “Wahai Rasulullah! Aku siap berkorban untukmu. Nabi menjawab, ‘Jaga wanita itu dulu.’ Jadi, Abu Thalhah menutupi wajahnya dengan pakaian dan pergi ke Safiyahh dan menolongnya. ” (Sahih al-Bukhari)

Nabi Muhamad mengakui warisan yang dimilili Safiyah dan keluarga asalnya. Oleh karena itu, hanya orang yang pantas bisa menikahi wanita yang begitu mulia. Safiyahh berhak mendapatkan penghormatan dan perlakuan yang layak.

Para sahabat juga mengerti bahwa Safiyahh sekarang telah menjadi salah satu ibu dari umat beriman. Isyarat kasih sayang dan perhatian seperti itulah yang memenangkan hati Safiyahh sehingga meninggalkan permusuhan apa pun yang dia miliki sebelumnya dan menjadi seorang Muslim yang taat dan istri yang setia.

Suatu ketika Nabi ditemani dalam perjalanan oleh Safiyah dan Zainab binti Jahsh (Zainab binti Jahsh) ketika unta Safiyah menjadi lumpuh. Zainab memiliki unta ekstra dan Nabi bertanya apakah dia akan memberikannya kepada Safiyah.

Zainab membalas, “Haruskah saya memberikan unta saya kepada wanita Yahudi itu?” Nabi berpaling dari Zainab dengan amarah dan tidak mau berhubungan dengan Zainab selama dua atau tiga bulan untuk menunjukkan ketidaksetujuannya atas apa yang dikatakan Zainab.

Sekitar tiga tahun kemudian, ketika Muhammad berada dalam penyakit terakhirnya, Safiyah ikut merasakan sakit yang dirasakan oleh Nabi. Dia kemudian tulus berkatam, “Ya Rasulullah,” katanya, “Aku berharap akulah yang menderita, bukan kamu.”

Beberapa istri Nabi lainnya mengedipkan mata satu sama lain yang membuat Nabi berseru, “Demi Allah, dia mengatakan kebenaran, jangan mengolok!”

READ:  Kisah Perang Waddan, Pertempuran Pertama Nabi Muhamad

Ya, ia terkenal dengan rasa belas kasihnya yang tinggi. Meskipun ia berasal dari keluarga yang berpengaruh, dia adalah wanita yang rendah hati dan selalu berusaha membantu orang lain. Safiyah masih mengalami kesulitan setelah kematian Nabi.

Suatu ketika seorang budak perempuan yang dimilikinya pergi ke Amirul Mu’minin Umar (Umar bin Khattab Khalifah Pengganti Nabi Muhammad) dan berkata, “Amirul Mu’minin! Safiyah sangat suka dengan hari Sabtu dan ia masih memelihara hubungan dengan orang-orang Yahudi!”

Umar kemudian bertanya kepada Safiyah tentang apa yang dikatakan budak tersebut dan Safiyah berkata, “Saya tidak lagi menyukai hari Sabtu sejak Allah menggantinya dengan hari Jumat untuk saya, dan saya hanya memelihara hubungan dengan orang-orang Yahudi yang memang memiliki hubungan persaudaraan dengan saya.”

Safiyah lalu bertanya kepada budak perempuannya apa yang telah merasukinya untuk berbohong kepada Umar dan gadis itu menjawab, “Setan!” Safiyah berkata, “Pergilah, kamu dengan bebas.”

Pernah pula suatu ketika, Selepas Nabi wafat, dan kekhilafahan dipimpin oleh Usman bin Affan (Biografi Utsman bin Affan Sahabat Nabi), rumah Safiyahh dikepung oleh pemberontak.

Usman langsung menuju ke dalam bahaya untuk melindunginya dan menenangkan kerumunan. Usman kemudian terus diberikan bekal  dan diberikan dukungan sebanyak yang Safiyahh bisa.

Safiyah bersama Nabi selama hampir empat tahun. Dia baru berusia 21 tahun ketika Nabi (meninggal, dan hidup sebagai janda selama 39 tahun. Ia meninggal pada 50 H, pada usia 60. Safiyahh meninggal pada masa pemerintahan Muawiyyah dan dimakamkan di Jannatul-Baqi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *