Saudah binti Zam’ah

Saudah binti Zam’ah

Setelah Saidatuna Khadijah binti Khuwailid RA dan Abu Thalib paman Rasulullah SAW wafat, kehidupan Rasulullah SAW menjadi terganggu. Luka perpisahan dari dua orang tersayang selalu terbayang dalam kehidupan Nabi. Rasulullah SAW ditinggalkan sendirian dalam suasana yang tidak bersahabat. Hingga kemudian Nabi akhirnya memperistri Saudah binti Zam’ah.

Bagaimanakah kisah hidup Saudah binti Zam’ah itu sendiri dan seperti apa perjalanan cinta antara Nabi dan Saudah binti Zam’ah?

Profil Saudah binti Zam’ah

Saudah binti Zam’ah dan suami pertamanya dan sepupu dari pihak ayah As-Sakran bin Amr, melarikan diri dari Mekah dan pindah ke Al-Habashah (sekarang Ethiopia) sesuai dengan perintah Nabi Muhammad (SAW), untuk meninggalkan Mekkah. Setelah memeluk Islam pada tahap awal agama, mereka menghadapi ancaman terus-menerus dari kaum musyrik Quraisy.

Delapan pria dan wanita dari keluarga yang sama melakukan perjalanan ke Al-Habashah: saudara laki-laki Saudah Malek bin Zam’ah, dan saudara suaminya Saleet, Hatib bin Amr dan keponakannya Abdullah bin Suhail. Tiga istri menemani tiga suami mereka; Saudah binti Zam’ah, Om Kalthoum binti Suhail dan Omrah binti Al-Waqdan.

Nama lengkap: Saudah binti Zam’ah

Nama ayah: Zam’ah bin Qais

Pernikahan pertama:  Sakran bin Amr Al-Qarshirara

Saudah binti Zam’ahra adalah seorang mualaf awal. Pernikahan pertamanya ketika memeluk Islam adalah dengan Sahabat Nabi (Kisah Para Sahabat Nabi), Sakran bin Amr. Mereka bermigrasi ke Abyssinia untuk menghindari penyiksaan dan kesulitan yang telah ditimbulkan Quraisy terhadap Muslim.

Namun Sakranra meninggal sekembalinya dari Abyssinia. Dilaporkan bahwa Saudah melihat bulan jatuh di salah satu mimpinya. Ketika dia mengungkapkannya kepada suaminya, Sakran menafsirkan mimpinya, bahwa setelah kematiannya tersebut, Saudah akan menikahi Muhamad.

Kisah di Balik Pernikahan Saudah binti Zam’ah dan Nabi Muhammad

Setelah kematian Khadijah binti Khuwailid, istri pertama Nabi Muhammad SAW, Nabi merasakan kesedihan dan kesepian yang luar biasa. Tidak ada yang berani berbicara dengannya tentang pernikahan. Pada hari-hari itulah, Khaula binti Hakim RA istri dari Utsman bin Mazoon, mengunjungi Rasulullah SAW dan menemukan dia sedih dan tertekan.

READ:  14 Istri Nabi Muhammad SAW

Khaulah binti Hakim menyarankan untuk mencari istri untuk Rasulullah dan dia merekomendasikan Saudah binti Zam’ah (setelah kematian suaminya) dan Nabi Muhammad pun setuju.

Saudah binti Zam’ah, suami pertamanya dan sepupu dari pihak ayah As-Sakran bin Amr, melarikan diri dari Mekah dan pindah ke Al-Habashah (sekarang Ethiopia) sesuai dengan perintah Nabi Muhammad SAW (Kisah Nabi Muhammad SAW), untuk meninggalkan Mekkah. Setelah memeluk Islam pada tahap awal agama, mereka menghadapi ancaman terus-menerus dari kaum musyrik Quraisy.

Delapan pria dan wanita dari keluarga yang sama melakukan perjalanan ke Al-Habashah: saudara laki-laki Saudah Malek bin Zam’ah, dan saudara suaminya Saleet, Hatib bin Amr dan keponakannya Abdullah bin Suhail. Tiga istri menemani tiga suami mereka; Saudah binti Zam’ah, Om Kalthoum binti Suhail dan Omrah binti Al-Waqdan.

Karena Saudah adalah seorang janda tua, orang-orang Makkah terkejut ketika mengetahui keputusan Rasulullah SAW untuk menikahinya. Dia adalah istri pertama Rasulullah (SAW) menikah setelah Khadijah meninggal.

Rasulullah SAW menikahi Saudah pada bulan Ramadhan pada tahun kesepuluh setelah kenabiannya (yaitu, pada bulan April / Mei 620), beberapa hari setelah kematian Khadijah RA. Kemudian Nabi Muhammad menikah dengan Aisyah bin Abu Bakar (Kisah Hidup Aisyah binti Abu Bakar) dan beberapa wanita lain.

Meski demikian, Nabi Muhammad bersikap adil dengan semua istrinya dalam hal uang dan waktu. Nabi Muhammad tetap memperlakukan Saudah dengan cara yang sama dia memperlakukan istri-istrinya yang lain.

Awalnya, Nabi Muhammad ingin menceraikan Saudah karena Nabi tidak ingin membuatnya merasa berbeda dari istri-istrinya yang lain. Jadi, suatu hari Nabi memberi tahu Saudah bahwa dia bermaksud menceraikannya.

Saudah merasa sangat terkejut dan memohon agar dia tetap menjadi istri Nabi, karena Saudah bercita-cita menjadi istri Nabi di surga. Sebagai balasannya, Saudah meminta Nabi Muhammad (SAW) untuk mengunjungi ‘Aisyah binti Abu Bakar pada hari dimana Nabi Muhammad biasa mengunjunginya. Rasulullah mengasihani Saudah dan membuat keinginannya menjadi kenyataan, yakni istri nabi hingga akhir hayatnya.

READ:  Perang Buwath dan Sosok Nabi Muhamad sebagai Jenderal Miilter Terhebat Sepanjang Masa

Kisah Menarik dari Saudah binti Zam’ah

  1. Istri yang Penurut

Saudah adalah istri yang sangat penurut. Ia mengetahui tanggung jawab yang datang dengan menikahi Utusan Islam dan segera melanjutkan perannya sebagai pengasuh rumah tangga dan anak-anaknya. Dia sangat berdedikasi pada tujuannya dan terkenal karena rasa ketaatannya.

Suatu ketika, setelah mendengar Nabi pergi melakukan perjalanan haji ke Mekah, ia ingin sekali ikut dengan Nabi berziarah. Ia mempunyai keyakinan bahwa perjalanan ke Mekah bersana Nabi ini mungkin ziarah terakhir.

Ia merasa akan ada banyak rintangan yang akan menahannya untuk melakukan ziarah lagi di masa depan, sehingga dia bersumpah untuk tidak pernah berangkat haji lagi jika bisa berangkat melakukan perjalanan ke Mekah bersama Nabi dan ternyata ia berkomitmen dengan sumpahnya ini.

  1. Baik dengan Istri-Itsri Nabi yang Lain

Saudah mempunyai sifat yang rendah hati dan wataknya sangat bersemangat. Saudah mengembangkan ikatan yang kuat dengan para putri dan istri Nabi Muhammad. Dia sangat dekat dengan istri Nabi selanjutnya seperti Aisyah, Hafsah dan Zainab. Nabi Muhamamd menghargai sifatnya yang ceria dan sering kali terhibur oleh humor Saudah.

Suatu ketika, Saudah mengunjungi Nabi Muhammad di rumah Aisyah. Dia menawarinya hidangan manis yang dia masak sebelumnya. Meskipun Saudah menolak,  Aisyah bersikeras dan mengatakan kepadanya bahwa dia akan mengolesi piring di wajahnya jika dia pergi tanpa mencicipinya.

Namun Saudah bersikera untuk tidak mencicipi hidangan tersebut hingga akhirnya Aisyah mengolesi pipi Saudah. Ketika Nabi melihat kedua istrinya ini bertingkah demikian, Nabi tidak bisa menahan tawanya. Nabi akhirnya meminta Saudah untuk melakukan hal yang sama pada Aisyah karena itu akan adil untuk keduanya.  Saudahpun kemudian mengolesi wajah Aisyah dengan hidangan manis di piring.

READ:  5 Hal Luar Biasa Tentang Khadijah, Istri Rasulullah

Peristiwa tersebut mencerminkan suasana santai dan menghibur di mana keluarga Nabi Muhammad saling akur dan harmonis.

  1. Taat Beribadah

Saudah menjalani hidup yang sederhana dan ia adalah sosok wanita yang salehah. Dia selalu menjalankan ibadah tepat waktu baik wajib maupun sunah. Setelah Nabi bangun untuk salat Tahajud, maka Saudah akan ikut bangun dan salat di belakangnya.  Nabi Muhammad sangat senang mendengar pengabdiannya dan ketaatannya dalam beribadah.

Saudah binti Zam’ah Wafat

Dipercaya secara luas bahwa Saudah binti Zam’ah meninggal pada tahun ke-22 Hijrah menjelang akhir Khilafat Umar bin Khattab (Umar bin Khattab Khalifah Pengganti Nabi Muhammad). Dia dimakamkan di Jannatul-Baqi.

Aisyah, yang sangat dekat dengan Saudah dan, merangkum sifat-sifatnya dalam kata-kata berikut:

“Saya tidak pernah berharap menjadi seperti wanita lain kecuali Saudah. Saya ingin memiliki caranya yang sederhana dan bersahaja dan saya berharap saya dapat menjadi seperti dia. Saya ingin memiliki hati yang murni dan bersih seperti hatinya dengan cara yang sederhana. ”

Subhanallah, sangat inspiratif sekali bukan kisah Saudah binti Zam’ah? Semoga kita bisa mengambil hikmah di balik kisahnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *